Crosshijaber Viral, Penyebabnya Bukan Cuma Penyimpangan Seksual

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ayah memeluk seorang polisi saat melakukan aksi protes diberlakukannya larangan menggunakan cadar di Copenhagen, Denmark, 1 Agustus 2018. REUTERS/Andrew Kelly

    Ayah memeluk seorang polisi saat melakukan aksi protes diberlakukannya larangan menggunakan cadar di Copenhagen, Denmark, 1 Agustus 2018. REUTERS/Andrew Kelly

    TEMPO.CO, Jakarta - Heboh kemunculan para crosshijaber di media sosial. Masyarakat pun bertanya-tanya seperti apa mereka dan mulai was-was. Crosshijaber adalah laki-laki yang berpakain seperti perempuan, dalam hal ini gamis, hijab panjang, bahkan cadar dan termasuk dalam crossdressing.

    Psikolog seksual Zoya Amirin mengatakan para pelaku crossdressing belum tentu mengalami penyimpangan seksual karena banyak sekali motif di balik perilaku individu yang gemar berpenampilan layaknya lawan jenis kelamin itu.

    "Crossdressing belum tentu sungguh-sungguh transvetisme karena motif atau tujuan akhirnya kita tidak pernah tahu. Crossdressing itu lebih ke penyaluran ekspresi dan memang ada komunitasnya. Beberapa sudah coming out dan beberapa ada yang memang didukung pasangannya, misal ke kondangan ya sama-sama pakai kebaya itu ada," kata Zoya.

    Penyimpangan perilaku seksual atau dalam istilah medis disebut parafilia salah satunya adalah transvetisme, yakni orang yang mendapat kepuasan dari berbusana atau berpenampilan seperti lawan jenis.

    Meski demikian, perilaku crossdressing bisa jadi menyimpang jika pada akhirnya mendapatkan kepuasan tanpa hubungan seks dengan manusia.

    Ilustrasi cadar. REUTERS/Amanda Perobelli

    "Penyebabnya hampir sama seperti semua paraphilia, yakni trauma pada masa lalu. Bisa saja dikasari lawan jenis. Jadi, dia merasa lebih nyaman dengan seksualitas lawan jenis dia," kata Zoya.

    Agar perilaku menyimpang tidak terjadi, sebaiknya para orang tua mengajarkan pendidikan seksual sejak dini sehingga anak akan nyaman dengan seksualitas dia.

    "Organ intim harus disebut sesuai namanya, bukan disebut dengan sebutan yang aneh-aneh misal penis jadi burung atau payudara jadi tetek," katanya.

    Zoya menambahkan pendidikan seksual sejak dini itu bertujuan agar anak tidak menganggap seksualitas sebagai sesuatu yang aneh, menakutkan, atau bahkan tabu sehingga mesti ditutup-tutupi dengan penyebutan lain.

    "Ketika anak tidak menganggap seksualitas sebagai hal yang aneh, dia akan nyaman dengan seksualitas dia dan tidak akan bereksperimen sendiri dengan seksualitasnya," katanya. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.