Saran Psikolog dalam Memberikan Pemahaman Seksual pada Anak

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tak Perlu Malu Soal Pendidikan Seksual Dini

    Tak Perlu Malu Soal Pendidikan Seksual Dini

    TEMPO.CO, Jakarta - Tak perlu malu atau risih memberikan pemahaman seksual pada anak. Pendidikan seksual penting diajarkan sejak dini agar anak tidak tumbuh dengan penyimpangan seksual. Di tahun-tahun awal, sebaiknya anak sudah dikenalkan dengan organ intim dan fungsinya.

    "Ajarkan anak tentang pendidikan seksual sedari awal. Organ intim harus disebut sesuai namanya, bukan disebut dengan sebutan yang aneh-aneh misal penis jadi burung atau payudara jadi tetek," kata psikolog seksual Zoya Amirin.

    Hal itu dimaksudkan agar anak tidak menganggap seksualitas sebagai sesuatu yang aneh, menakutkan, atau bahkan tabu sehingga mesti ditutup-tutupi dengan penyebutan lain.

    "Ketika anak tidak menganggap seksualitas sebagai hal yang aneh maka dia akan nyaman dengan seksualitas dia dan tak akan bereksperimen sendiri dengan seksualitasnya," jelasnya.

    Selain itu, anak juga harus diajarkan fungsi dari organ seksualitas dengan benar. Misalkan vagina dan penis fungsinya untuk buang air kecil, maka harus dijaga kebersihannya.

    Ilustrasi ibu mengajari anak. Pixabay.com

    "Sebaiknya orang tua bisa menjelaskan semua itu dengan santai sehingga anak mendapatkan pelajaran soal seksual pertama kali dari orang tua, bukan dari lingkungan, baru dari situ orang tua bisa memasukkan nilai-nilai agama dan budaya," katanya.

    Sementara itu, psikolog anak dan keluarga Roslina Verauli, M.Psi, Psi. mengatakan anak juga hendaknya diberi keleluasaan untuk memahami dan menghayati seksualitasnya.

    "Ketika anak misalnya suka pegang alat kelaminnya di usia 1 atau 2 tahun, berikan pemahaman bahwa iya dia punya penis sama dengan papa, atau vagina sama dengan mama, lalu berikan contoh model yang tepat bahwa kalau laki-laki menampilkan maskulinitas dengan tepat, kalau perempuan menampilkan feminitas. Penghayatan gender itu dilakukan dengan cara mengamati, kalau contohnya benar maka penghayatannya tepat," jelas psikolog dari Rumah Sakit Pondok Indah yang akrab disapa Vera itu.

    Penyimpangan perilaku seksual yang secara medis disebut parafilia adalah kondisi di mana kepuasaan seksual didapat dengan melibatkan objek seksual yang tidak biasa.

    "Penyimpangan seksual punya objek seksualitas yang tidak normal dibanding kebanyakan orang. Normalnya, orang memiliki objek seksualitas lawan jenis yang memang secara umum mendatangkan hasrat seksual, pada orang tertentu hal itu bisa menyimpang, bisa saja objek seksualitasnya adalah orang asing di keramaian, bisa anak kecil, bisa pakaian lawan jenis yang bukan milik pasangan," kata Vera.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.