Kurangi Dampak Kabut Asap dengan Tanaman dan Akuarium

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah siswa SMP pulang lebih awal usai diumumkannya libur terkait kondisi kabut asap yang pekat di Palembang, Sumatera Selatan, Senin 14 Oktober 2019. Kondisi kabut asap yang sangat pekat membuat Dinas Pendidikan setempat mengeluarkan pemberitahuan bagi sekolah untuk meliburkan sekolah. ANTARA FOTO/Feny Selly

    Sejumlah siswa SMP pulang lebih awal usai diumumkannya libur terkait kondisi kabut asap yang pekat di Palembang, Sumatera Selatan, Senin 14 Oktober 2019. Kondisi kabut asap yang sangat pekat membuat Dinas Pendidikan setempat mengeluarkan pemberitahuan bagi sekolah untuk meliburkan sekolah. ANTARA FOTO/Feny Selly

    TEMPO.CO, Jakarta - Kabut asap kembali menyelimuti beberapa daerah, meskipun hujan sudah mulai turun. Namun, kabut pekat akibat kebakaran hutan dan lahan bisa diminimalkan dampaknya dengan hiasan aquascape dan tanaman dalam ruangan yang bisa menyerap karbon dioksida (CO2).

    Berdasarkan buku Penanggulangan Krisis Kesehatan Lindungi Diri Dari Bencana Kabut Asap Kementerian Kesehatan, hiasan akuarium dengan berbagai tumbuhan air dapat menyerap CO2 yang banyak terkandung pada kabut asap. Tangki air yang ditanamkan tumbuhan air (aquascape) seperti ganggang dan dipasangi lampu ultraviolet atau LED bisa mengurangi CO2 dan menjaga kelembaban udara karena adanya proses fotosintesis.

    Selain itu, Kementerian Kesehatan menyebut bahwa tanaman dalam ruangan juga bisa menyerap CO2 dan menghasilkan oksigen (O2) dari proses fotosintesis di dalam rumah. Tanaman yang digunakan sebaiknya yang memiliki kemampuan menyerap berbagai polutan, seperti lidah mertua atau sanseveira, lili paris, sirih gading, dan suplir.

    Kabut asap yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan berdampak langsung pada kesehatan, khususnya gangguan saluran pernapasan. Asap mengandung sejumlah gas dan partikel kimia yang mengganggu pernapasan, seperti sulfur dioksida (SO2), karbon monoksida (CO), formaldehid, akrelein, benzen, nitrogen oksida (NOx), dan ozon (O3).

    Sejumlah siswa SMP pulang lebih awal usai diumumkannya libur terkait kondisi kabut asap yang pekat di Palembang, Sumatera Selatan, Senin 14 Oktober 2019. Kondisi kabut asap yang sangat pekat membuat Dinas Pendidikan setempat mengeluarkan pemberitahuan bagi sekolah untuk meliburkan sekolah. ANTARA FOTO/Feny Selly

    Material tersebut memicu dampak buruk yang nyata pada lansia, bayi, dan pengidap penyakit paru, meskipun tidak dipungkiri dampak tersebut bisa juga menyerang orang sehat. Dampak akut dari kabut asap karhutla paling banyak adalah infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan iritasi pada mata, tenggorokan, hidung, serta menyebabkan sakit kepala atau alergi.

    Kabut asap juga bisa berdampak kronis atau jangka panjang, yaitu menimbulkan potensi penyakit asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), dan penyakit jantung di kemudian hari. Menurut Yayasan Paru-paru Kanada, kabut asap yang disebabkan kebakaran hutan bisa berakibat fatal pada penderita PPOK karena mengurangi atau memperburuk kinerja paru-paru. Semakin lama pasien terpapar kabut asap, semakin besar juga risiko kematiannya.

    Kabut asap membawa partikel sangat kecil dengan ukuran 2,5 mikrogram yang disebut PM2.5. Partikel tersebut dapat masuk ke dalam tubuh lewat saluran pernapasan. Sebuah studi oleh California Environmental Protection Agency tahun 2014 membuktikan pasien yang terpapar kabut asap dalam waktu lama menggandakan risiko terkena serangan jantung atau stroke.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.