Pelantikan Presiden, Peserta Pameran Crafina Tetap Berjualan

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Stan yang menjual tas - tas dari kulit buaya di Crafina 2019, Jakarta Convention cente 19 Oktober 2019. Antara News/Nanien Yuniar

    Stan yang menjual tas - tas dari kulit buaya di Crafina 2019, Jakarta Convention cente 19 Oktober 2019. Antara News/Nanien Yuniar

    TEMPO.CO, Jakarta - Para peserta pameran produk industri kreatif Crafina 2019 masih berjualan pada hari terakhir pameran yang bertepatan dengan pelantikan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin, Minggu 20 Oktober 2019. Aan Gunaefi dari stan dekupase (decoupage), ketika ditemui ANTARA di Jakarta, Sabtu (19/10) petang, tidak merasa ada perubahan berarti dari segi jual beli meski sebagian kawasan Senayan sudah disterilkan. "Saya optimistis pasti aman," ujar Aan.

    Dia malah berharap jelang ataupun seusai pelantikan orang-orang akan mampir ke pameran tersebut untuk berbelanja. "Apalagi di sini banyak batik. Kan, mereka butuh untuk (menghadiri) sidang," ujar dia sembari tersenyum.

    Pameran Crafina berlangsung di JCC, kawasan Gelora Bung Karno. Lokasi itu hanya berjarak 1,5 kilometer dari kawasan Gedung MPR/DPR tempat berlangsungnya pelantikan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin.

    Aaan yang sudah berbisnis selama 4,5 tahun dan menggeluti dunia decoupage, seni menghias benda dengan potongan kertas bergambar pada permukaannya, itu pernah punya pengalaman mengikuti pameran yang areanya berdekatan dengan demonstrasi. "Waktu 212, ada bazar di museum Gajah. Saya sudah terlanjur taruh barang, jadi harus ke sana. Ternyata mereka (peserta aksi) setelah itu ramai datang untuk berbelanja," kata Aan tentang kenangan mengikuti pameran di dekat lokasi demonstrasi.

    Aan menjual tas-tas anyaman rotan asal Lombok yang sudah dihiasi dengan potongan tisu bergambar, ada yang terkesan feminin, ada juga yang lebih ceria seperti gambar "My Little Pony". Tisu-tisu bergambar yang akan ditempelkan ke permukaan benda seperti tas, tempat tisu, hingga tempat menaruh gelas air kemasan itu diimpor dari Eropa. "Lima tahun lalu sempat sulit membuat dekupase karena bahan bakunya susah. Tapi, kami kemudian cari supplier dan bisa berlanjut," kata dia yang menambahkan proses belajar dekupase hanya berlangsung satu jam.

    Sedikit berbeda dengan stan milik Aan yang terletak tak jauh dari pintu masuk pameran, area sekitar stan yang ditempati Ridho Pangestu, penjual barang-barang dari kulit buaya, agak lengang. Tempat dia berjualan terletak di area pameran yang lebih dalam yang suasananya sedikit lebih sepi ketimbang area dekat pintu masuk. "Biasanya sampai susah jalan saking penuh, sekarang lebih sepi. Tapi, kami tetap berjualan sampai hari terakhir," ujar Ridho.

    Dia menjual sepatu, tas pria dan wanita, pernak-pernik seperti dompet, hingga tas golf berukuran besar. Semuanya berbahan kulit buaya. Kisaran harganya mulai ratusan ribu hingga puluhan juta. Bisnis tersebut sudah digeluti selama 19 tahun. Ridho merupakan generasi kedua yang meneruskan usaha ayahnya itu.

    Sebanyak 357 perusahaan kerajinan Indonesia mengikuti pameran Crafina 2019. Bukan hanya batik, produk berbasis tekstil, kayu, batu-batuan, logam, mineral, fiber dan kulit juga dipamerkan di sana. Dengan tema "From Natural Resources to Creative Product for Lifestyle“, acara itu diharapkan mengangkat orisinalitas produk kerajinan Indonesia dengan memanfaatkan sumber daya alam yang berkecukupan di Indonesia dalam menghasilkan produk-produk kerajinan unggulan.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.