Pentingnya Mengajarkan Wirausaha pada Anak sejak Dini

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi menabung. Shutterstock

    Ilustrasi menabung. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Bidang wirausaha sedang menjadi tren di  kalangan anak muda. Bahkan, pemerintah dalam menyongsong industri 4.0 pun sedang mendorong masyarakat Indonesia untuk menjadi seorang pengusaha. Namun, pentingkah mengajarkan nilai kewirausahaan kepada anak

    Manajer umum Sekolah Citra Kasih Don Bosco, Boedi Tjusila, mengatakan bahwa hal tersebut sangat penting karena dengan perubahan zaman yang semakin pesat, salah satu cara agar anak tetap eksis ialah dengan berinovasi.

    “Kreativitas dan imajinasi untuk berinovasi itu bisa dibangun dari entrepreneurship,” katanya dalam acara “Nurturing the Spirit of Entrepreneurship for the 4.0 Generation” di Jakarta pada 26 Oktober 2019.

    Dari bentuk konkrit pengajaran entrepreneurship sendiri bisa di mulai sejak taman kanak-kanak (TK). Bagi yang berusia 4-6 tahun itu, Boedi menyarankan agar orang tua mengajarkan financial literacy.

    “Yang mudah saja. Misalnya, seperti bagaimana anak mengelola uang dengan baik. Diberi uang jajan lalu berapa yang mau digunakan dan disisihkan,” ujarnya.

    Saat tumbuh lebih besar dan duduk di bangku sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP), orang tua bisa mengenalkan cost of product atau biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi suatu produk. “Perhitungan ini penting karena dalam usaha, hal mendasar adalah soal angka dan uang,” jelasnya.

    Sedangkan untuk mereka yang berada di sekolah menengah atas (SMA) dan kuliah, orang tua bisa meningkatkan kemampuan anak dari segi penciptaan suatu produk baru atau produk yang sudah ada, namun diberi nilai tambah.

    “Kreativitas anak akan sangat menolong dalam dunia dengan persaingan yang semakin ketat,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.