Tak Ganggu Aktivitas, Alasan Karyawan Suka Belanja Online

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi belanja online / e-commerce. freepik.com

    Ilustrasi belanja online / e-commerce. freepik.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Survei terbaru dari lembaga riset Snapcart pada Januari 2018 mengungkapkan bahwa belanja online paling banyak dikerjakan oleh para karyawan perusahaan. Ini bisa dibuktikan dari rentang usia produktif karyawan, yakni 25-34 tahun, yang sebanyak 80 persen berbelanja online.

    Rupanya, berbagai alasan pun menyertai aktivitas ini. Menurut External Communications Lead Tokopedia, Ekhel Chandra Wijaya, alasan pertamanya adalah waktu yang fleksibel. Ini berarti, para pekerja bisa berbelanja kapan saja yang mereka mau.

    “Berbelanja online dapat dilakukan di sela waktu istirahat kerja atau perjalanan pulang ke rumah. Sangat efisien dari segi waktu,” katanya dalam acara media gathering Tokopedia di Makassar pada 7 November 2019.

    Ekhel juga menjelaskan bahwa harga berbelanja daring yang lebih murah menjadi daya tarik lain. Seperti yang sering ditampilkan dari berbagai iklan, platform berbelanja online sering mengunggah banyak promosi potongan harga dan cashback.

    “Dengan berbagai promosi, itu akan menguntungkan para pekerja. Jadi daripada beli di pusat perbelanjaan dengan harga normal, lebih baik belanja online,” jelasnya.

    Terakhir, Ekhel mengungkapkan jika aktivitas yang dilakukan para karyawan tidak akan terganggu melalui belanja online. Bahkan, belanja online membantu mereka untuk menemukan sesuatu yang dibutuhkan saat sedang beraktivitas.

    “Misalnya membutuhkan printilan kantor, mereka bisa tetap melakukan aktivitas seperti biasa sambil belanja dan tinggal tunggu barang datang. Jadi, aktivitas lain tidak terbengkalai hanya untuk satu barang yang diperlukan dan bisa didapat online,” ungkapnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.