Banyak Penggemar, Makanan Korea pun Kini Tunggu Sertifikasi Halal

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Berbagai makanan halal khas Korea di Manis Kitchen, Seoul, Korea Selatan. TEMPO | Purwani Diyah Prabandari

    Berbagai makanan halal khas Korea di Manis Kitchen, Seoul, Korea Selatan. TEMPO | Purwani Diyah Prabandari

    TEMPO.CO, Jakarta - Indonesia masih dilanda demam Korea. Apapun yang berbau Korea, drama, K-Pop, kosmetik, sampai makanan digandrungi banyak orang Indonesia. Untuk kuliner, warung barbekyu khas Korea model all you can eat menjamur di mana-mana. Berbagai produk mi instan pun menjual nama Korea.

    Hal itulah yag membuat Indonesia adalah pasar potensial buat Korsel. Tuan rumah Olimpiade 1988 ini pun berburu sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk berbagai produk kulinernya. Sertifikat halal dianggap bisa menjadi kunci diterimanya produk-produk Korea di Indonesia, yang merupakan negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia.

    Assistant Chief Reprsentative Korea Agro-Fisheries Trade Corporation (aT) – BUMN Kementerian Pertanian, Pangan, dan Urusan Pedesaan Korea, Choi Hyongsoon, menyatakan bahwa tujuan keikutsertaan mereka pada pameran SIAL (Salon International d’almentation) Interfood 2019 di JIExpo Kemayoran Jakarta, pekan lalu, adalah untuk mengekspor makanan Korea ke negara lain, termasuk Indonesia. Apalagi, setiap tahun ada ratusan produk yang daftar baru di Badan Perizinan Obat dan Makanan (BPOM).

    “Kami sedang mempromosikan sertifikat halal. Memang ada masa tenggang lima tahun, tetapi jauh-jauh hari kami harus sudah menyiapkan dan itu yang juga yang disampaikan kepada para eksportir di sini,” tuturnya lewat rilis yang diterima TEMPO.

    Lee Byung-ho, Chief Executive Officer (CEO) aT (dok. aT)

    Namun, ada kendala yang ditemui saat mencoba mendapatkan sertifikat halal di Indonesia. Ada beberapa bahan asal Korea Selatan yang tidak familiar di Indonesia sehingga sulit untuk memperoleh izinnya.

    Dala kesempatan sama, Chief Executive Officer (CEO) aT, Lee Byung-ho, mengatakan saat ini sangat banyak masyarakat Indonesia yang berkunjung atau liburan ke Korea, dan juga sebaliknya. Jadi, minat masyarakat Indonesia terhadap K-Pop, budaya, dan kuliner Korea semakin meningkat.

    “Indonesia, walau memiliki keragaman kuliner yang luar biasa, masyarakatnya suka mencoba ragam kuliner baru yang ditawarkan. Termasuk berbagai kuliner Korea yang banyak mereka lihat dalam drama Korea di televisi serta film-film Korea di bioskop, Jadi, melalui keikutsertaan ini masyarakat Indonesia bisa lebih mengenal kuliner Korea,” ujarnya.

    “Kami sudah empat kali mengikuti even ini. Kami kumpulkan produk perusahaan-perusahaan dari Korea yang bergerak di bidang kuliner lalu mereka diseleksi. Kami mendatangkan perusahaan-perusahaan menengah ke bawah ke sini secara gratis,” kata Hyongsoon Choi menambahkan.

    Ada 27 perusahaan yang dibawa oleh aT ke Indonesia dengan berbagai produk kuliner seperti kimchi, mi instan, ginseng, saus, makanan ringan, makanan hasil laut, makanan sehat, produk makanan segar, teh, minuman herbal, dan lain-lain.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.