Anak Jalanan Rentan Terjerumus Kriminalitas, Ini Kata Psikolog

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak jalanan. ADEK BERRY/Getty Images

    Ilustrasi anak jalanan. ADEK BERRY/Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Psikolog dari kantor Atmaveda Consultant Pekanbaru, Fety Nurhidayati, mengatakan keadaan hidup di jalanan dapat menyebabkan anak tumbuh dewasa sebelum usia semestinya. Akibat lain yang ditimbulkan yakni kemungkinan besar anak-anak yang hidup di jalanan atau dikenal dengan istilah anak jalanan rentan terseret kriminalitas.

    "Anak-anak pada usia ini cenderung menirukan semua hal yang mereka lihat. Apabila yang mereka lihat kriminal, kekerasan, maka mereka akan tumbuh tak jauh dari itu," katanya.

    Kecenderungan tersebut dinilai sebagai dampak bagi anak-anak yang sering terpapar kekerasan yang kemungkinan akan tumbuh menjadi seseorang yang memiliki pandangan bahwa kekerasan adalah hal yang normal dan lumrah dilakukan sebagaimana yang sering mereka lihat.

    Selain itu, anak-anak yang sering terpapar kekerasan tersebut kelak akan menjadi pribadi yang abusif, senang menyiksa orang lain, dan menganggap kekerasan sebagai sebuah solusi yang menjanjikan.

    Seperti diakui Afrizal (7 tahun) dan Dila (6), kedua kakak beradik ini tinggal bersama neneknya yang sehari hari bekerja sebagai penjual koran dan mereka rela berpanas-panasan menolong nenek mereka berjualan.

    Keduanya mengaku belum mengenyam bangku pendidikan sekolah dasar meskipun umur mereka sudah cukup. Mereka harus merelakan masa kecil di jalanan untuk ikut mengurangi beban ekonomi keluarga.

    Hidup di jalanan tentu memiliki dampak buruk bagi tumbuh kembang Afrizal dan Dila. Apalagi pada segi psikologi, terlebih anak di usia sedang gemar gemarnya menirukan perilaku orang di sekitarnya, tentu kerasnya kehidupan di jalanan bukan contoh yang baik.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.