Awas, Asupan Protein Berlebihan Berdampak Buruk pada Ginjal

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi ginjal. thestatesman.com

    Ilustrasi ginjal. thestatesman.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Protein memang baik bagi tubuh tapi bila asupannya terlalu banyak justru berbahaya. Konsumsi protein tinggi dapat membantu menurunkan berat badan dan mengembangkan massa otot tanpa lemak. Tapi, konsumsi protein terlalu banyak bisa berujung negatif bagi kesehatan, salah satunya membahayakan ginjal.

    Para peneliti, seperti dilansir Medical Daily, menemukan diet tinggi protein bisa membuat ginjal tidak lagi berfungsi dengan normal, terutama pada penderita diabetes atau orang yang mengalami obesitas.

    "Diet tinggi protein menginduksi hiperfiltrasi glomerulus, yang, menurut pengetahuan kami, dapat meningkatkan penyakit ginjal kronis tingkat rendah yang sudah ada sebelumnya. Kondisi itu sering terjadi pada orang dengan diabetes," kata Denis Fouque, salah satu peneliti.

    Para peneliti mengatakan semakin tinggi asupan, semakin cepat menyebabkan penurunan
    fungsi ginjal. Studi terbaru dalam jurnal Nephrology Dialysis Transplantation mendukung studi sebelumnya yang mengeksplorasi efek diet protein tinggi. Para ahli kesehatan menyarankan pasien penyakit ginjal kronis tahap awal harus diet rendah protein untuk menjaga kesehatan ginjal.

    Mereka mungkin memiliki risiko komplikasi tertinggi. Tapi, pada umumnya orang-orang tidak menyadari kondisi mereka dan mengikuti diet protein tinggi karena tren. Orang dengan diabetes tipe 2 juga berisiko terganggu fungsi ginjal. Sekitar 30 persen pasien diabetes juga memiliki penyakit ginjal kronis dan mereka mungkin mengonsumsi lebih banyak protein untuk mengatur berat badan. Namun, studi lebih lanjut diperlukan untuk menentukan perbedaan antara protein dari makanan hewani atau nabati.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.