3 Tantangan Utama Pengobatan Kanker Paru di Indonesia

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Kanker paru-paru. Shutterstock

    Ilustrasi Kanker paru-paru. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Kanker paru masih menduduki peringkat pertama sebagai penyakit terbanyak yang diderita oleh masyarakat di seluruh dunia. Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia pada tahun 2018, sebanyak 2,1 juta orang atau 11,6 persen dari beban kejadian kanker terjadi pada paru-paru.

    Di Indonesia kasus kanker paru juga semakin memprihatinkan. Menurut data Globocan 2018, Indonesia berada di urutan ke-8 di Asia Tenggara dan kasusnya telah meningkat sebanyak 10,85 persen dalam lima tahun terakhir. Sayangnya dari segi pengobatan, berbagai tantangan masih harus dihadapi oleh pasien di Indonesia.

    Menurut dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Kanker Pusat Dharmais, Arif R. Hanafi, salah satu tantangan itu berupa minimnya pengetahuan masyarakat akan gejala dan bentuk pengobatan kanker paru. “Ini membuat pasien yang datang ke kami sudah stadium akhir sehingga pengobatan sulit dilakukan dan angka kematian juga tinggi,” katanya dalam acara Memahami Imunoterapi Kanker di Jakarta pada Sabtu, 23 November 2019.

    Permasalahan lain berupa biaya pengobatan kanker paru yang sangat mahal. Memang menurut Arif, untuk mendapatkan obat dan terapi yang maksimal, seseorang harus mengeluarkan uang banyak. Padahal kanker paru banyak dialami pekerja kasar (buruh) yang umumnya merokok. “Saya berharap agar pemerintah melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial bisa membantu masyarakat. Sampai saat ini kan pengobatan hanya dicover sebagian,” katanya.

    Akses pengobatan yang terbatas juga masih menjadi kendala di Indonesia. Arif mengatakan bukan saja jenis pengobatan yang ditawarkan, namun juga dari segi harga. Baru-baru ini untungnya Indonesia menghadirkan inovasi terbaru untuk kanker paru, yakni imunoterapi. Secara umum, terapi ini menggunakan sel imun kita untuk membunuh sel kanker. “Biayanya memang masih mahal dan belum dibantu oleh BPJS. Semoga nantinya pemerintah bisa menolong karena efektif daripada kemoterapi atau terapi target,” katanya.

    SARAH ERVINA DARA SIYAHAILATUA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dijen Imigrasi Ronny Sompie Dicopot Terkait Harun Masiku

    Pencopotan Ronny Sompie dinilai sebagai cuci tangan Yasonna Laoly, yang ikut bertanggung jawab atas kesimpangsiuran informasi kasus Harun.