Banyak Murid Tidak Suka IPA, Pentingnya Guru IPA Kreatif Mengajar

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi seorang guru. shutterstock.com

    Ilustrasi seorang guru. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Sri Renani Pantjastuti mengatakan guru harus kreatif dalam mengajarkan mata pelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA) pada siswa.

    "Guru harus kreatif, untuk menunjukkan bahwa belajar IPA itu penting. Sehingga mereka tertarik dan mendapat manfaat dari pelajaran itu," ujar Renani usai pembukaan simposium nasional guru IPA di Jakarta, Selasa 16 November 2019.

    Selama ini, kata dia, siswa kurang menyenangi mata pelajaran IPA karena guru gagal dalam mengajarkan sains yang aplikatif. Lebih banyak yang berbasis pada konten. "Dari simposium ini, banyak praktik baik yang sudah dilakukan oleh guru-guru, dan kami harap bisa mendiseminasikannya lagi ke guru lainnya," terang dia.

    Sejumlah praktik baik yang bisa didesiminasikan pada guru lainnya, mulai dari pelajaran fisika hingga kesiapsiagaan bencana. Dia berharap akan semakin banyak guru-guru IPA yang termotivasi untuk mengajarkannya secara kreatif.

    Kegiatan inti dari simposium itu adalah forum saling berbagi pengalaman bagi guru-guru IPA terpilih, yang dikelompokkan dalam beberapa subtema.

    Subtema tersebut terdiri dari penguatan pendidikan karakter dalam pembelajaran IPA, strategi pembelajaran, penilaian pembelajaran, upaya peningkatan kinerja guru, pengembangan literasi dalam pembelajaran, strategi pembelajaran dalam jaringan, pengembangan media pembelajaran, pengembangan lingkungan sebagai sumber pembelajaran, pengembangan pembelajaran IPA melalui ekstrakurikuler, pemanfaatan laboratorium IPA, dan strategi pembelajaran IPA di daerah 3T.

    Dalam simposium itu juga diluncurkannya empat program Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) IPA, yakni Diklat Daring Masif dan Terbuka (Didamba), Media informasi kepala laboratorium IPA (De-Mikroskop), SIM Evaluasi Diklat (SimEDI), dan Mobil Pendidikan Semua Pintar Sains (Modis Pisan).


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.