Ciputra Meninggal, Percaya pada Keluarga Kuncinya Jalankan Bisnis

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dr (HC) Ir Ciputra hadir dalam malam penganugerahan Federasi Teater Indonesia (FTI) Award XI di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Senin, 26 Desember 2016. FTI memberikan penghargaan kepada tokoh yang berjasa di bidang seni pertunjukan dan kebudayaan. Ciputra mendapat penghargaan sebagai Maecenas FTI. TEMPO/Nurdiansah

    Dr (HC) Ir Ciputra hadir dalam malam penganugerahan Federasi Teater Indonesia (FTI) Award XI di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Senin, 26 Desember 2016. FTI memberikan penghargaan kepada tokoh yang berjasa di bidang seni pertunjukan dan kebudayaan. Ciputra mendapat penghargaan sebagai Maecenas FTI. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - Chairman dan Founder Ciputra Group, Ciputra meninggal dunia di Singapura pada 27 November 2019 pukul 01.05 waktu setempat. Ia menghembuskan nafas terakhirnya pada usia 88 tahun. Hal tersebut pun telah dikonfirmasi oleh Direktur Ciputra Development, Tulus Santoso. "Ya benar," kata Tulus saat dihubungi Tempo.co pada Rabu, 27 November 2019.

    Ciputra sangat di dunia properti. Ia ikut andil dalam berbagai proyek pembangunan seperti Taman Impian Jaya Ancol, Pondok Indah, Serpong, perumahan Kedoya Garden, Wesling Apartment, Perumahan Kembangan Baru hingga Green Court Residence. Ternyata, keberhasilan Ciputra juga tidak terlepas dari peran keluarga. Sebab di saat beberapa orang menghindari usaha keluarga karena alasan personal, Ciputra justru mempercayakan seluruh bisnis pada anak-anaknya. Ia mengaku bahwa secara naluri, keluarga pasti ingin mempertahankan perusahaan yang mereka dirikan.

    Jika perusahaan sedang mengalami kerugian, mereka juga bisa menanggungnya. “Bagi kaum profesional, kalau perusahaan hancur, mereka bisa pindah ke perusahaan lain,” kata Ciputra dalam wawancara khusus dengan Tempo pada Mei 1993.

    Dalam menjalan bisnis keluarga, Ciputra juga menetapkan beberapa ketetapan. Misalnya, ia mulai dengan mempersiapkan keempat anaknya dengan kemampuan bisnis yang matang. Ini dikerjakan dengan cara memasukan anak-anak pada kampus yang bisa mendukung usaha properti. “Rina, Junita, maupun Candra yang memiliki ijazah M.B.A. dan Cakra sebagai insinyur teknik sipil,” katanya.

    Keempat anaknya kemudian dipercayakan setiap bisnis dari Ciputra. Pembagian pekerjaan ini didasarkan pada bakat dan kesukaan masing-masing. Atas dasar itu, urusan pengembangan sumber daya manusia dipegang oleh Rina, sedangkan urusan keuangan ditangani Junita.

    Adapun Cakra yang insinyur sipil dipercaya menggarap urusan konstruksi. Sedangkan Candra mencari peluang untuk proyek baru. Lalu apa tugas Ciputra? “Saya sendiri hanya sebagai pembina, pengayom dan penasihat mereka,” katanya.

    SARAH ERVINA DARA SIYAHAILATUA | MAJALAH TEMPO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kobe Bryant Sang Black Mamba: Saya Tak Ingin Jadi Michael Jordan

    Pemain bola basket Kobe Bryant meninggal pada 26 Januari 2020, dalam kecelakaan helikopter di dekat Calabasas, California. Selamat jalan Black Mamba!