Awas Kanker Paru, Ini yang Perlu Dipahami

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Kanker paru-paru. Shutterstock

    Ilustrasi Kanker paru-paru. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Aryanthi Baramuli Putri, Ketua Umum Cancer Information & Support Center, mengatakan bahwa kanker paru merupakan penyebab kematian tertinggi akibat kanker, bahkan lebih tinggi jika dibandingkan dengan jumlah kematian dari kanker prostat, payudara, dan kolorektal bila digabungkan.

    Kanker paru dibagi menjadi dua jenis besar, yakni kanker paru bukan sel kecil atau nonsmall cell lung cancer (NSCLC) dan kanker paru sel kecil atau small cell lung cancer (SCLC). Adapun tingkat survival kanker paru yang berusia 5 tahunan cenderung sangat rendah dan tergantung pada stadium ditemukannya kanker.

    Umumnya seseorang diketahui menderita kanker pada stadium dini sebesar 50 persen. Sementara itu, untuk tingkat stadium lanjut hanya sekitar 2-19 persen. Kondisi menandakan adanya tantangan dari segi ketersediaan informasi tentang kanker paru dan berbagai jenis mutasinya serta deteksi dan pengobatannya, termasuk untuk kanker paru jenis ALK positif. Sejumlah pasien NSCLC memiliki mutasi gen anaplastic lymphoma kinase (ALK) atau dikenal dengan kanker paru NSCLC ALK+ (ALK positif).

    Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Sita Laksmi Andarini, Ph.D, Sp.P (K), mengatakan ALK adalah salah satu mutasi onkogenik yang terjadi pada pasien kanker paru, bukan sel kecil atau NSCLC. Kanker paru ALK positif memiliki masa perburukan yang sangat cepat, yaitu hanya sekitar tujuh bulan dengan pengobatan kemoterapi.

    “Kanker paru jenis ini bisa dibilang penyakit langka, di mana terjadi pada sekitar 2-5 persen dari populasi kanker paru, yang sebagian besar ditemui pada pasien kanker paru stadium lanjut, bukan perokok, berusia sekitar 45–50 tahun atau lebih muda dari populasi pasien kanker paru umumnya, serta mengalami penyebaran sel kanker atau metastasis ke otak,” ungkapnya.

    Di era kini, lanskap pengobatan kanker paru telah berkembang sangat pesat sehingga kemajuan teknologi memungkinkan penanganan kanker paru yang efektif. Salah satunya dibuktikan dari hasil studi yang menunjukkan pengobatan kanker paru anti ALK dengan alektinib yang telah berhasil meningkatkan hasil terapi pada pasien, yakni dapat memberikan masa bebas perburukan hampir 3 tahun.

    Berdasarkan data Global Cancer Observatory (Globocan 2018), 1,8 juta jiwa di dunia meninggal akibat kanker paru sepanjang 2018. Sementara di Indonesia, setiap tahunnya lebih dari 30.023 penduduk didiagnosa kanker paru, 26.095 orang meninggal pada 2018.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dijen Imigrasi Ronny Sompie Dicopot Terkait Harun Masiku

    Pencopotan Ronny Sompie dinilai sebagai cuci tangan Yasonna Laoly, yang ikut bertanggung jawab atas kesimpangsiuran informasi kasus Harun.