Hari AIDS Sedunia, Yuk Hidup Bermasyarakat dengan Para Penyintas

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah mahasiswa melakukan aksi teatrikal dalam memperingati hari AIDS Sedunia di Palu, Sulawesi Tengah, 1 Desember 2018. Dalam aksi tersebut, mahasiswa juga menyerukan bagamaimana pencegahan HIV Aids. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Sejumlah mahasiswa melakukan aksi teatrikal dalam memperingati hari AIDS Sedunia di Palu, Sulawesi Tengah, 1 Desember 2018. Dalam aksi tersebut, mahasiswa juga menyerukan bagamaimana pencegahan HIV Aids. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Siapa pun dapat berisiko terkena HIV. Penanganan serta pencegahan persebaran penyakit ini harus bermula dari dukungan dan pemahaman terhadap ODHIV.  Infeksi HIV merupakan masalah kesehatan global. Pada 2016, Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan terdapat sekitar 1 juta penderita HIV meninggal di seluruh dunia. Untuk meningkatkan pemahaman tentang HIV dan AIDS, yuk pahami bagaimana bermasyarakat dengan para penyintas bertepatan dengan Hari AIDS Sedunia

    Berdasarkan data yang didapatkan dari UNAIDS (United Nations Program on HIV/AIDS) di tahun 2016, terdapat sekitar 620 ribu penderita infeksi HIV (ODHIV) di Indonesia. 3200 kasus terjadi pada anak-anak, dan angka kematian akibat penyakit ini mencapai 40 ribu kasus.

    Tidak hanya berusaha untuk tetap hidup sehat, ODHIV menghadapi tantangan lain yang tidak kalah berat: stigma dan diskriminasi. Tidak sedikit ODHIV yang kehilangan pekerjaan, ditolak oleh keluarga dan teman-temannya, atau bahkan menjadi korban kekerasan. Data dari UNAIDS menyebutkan bahwa 62,8 persen masyarakat di Indonesia enggan berinteraksi dengan ODHIV.

    Ada beberapa hal yang melatarbelakangi stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV. Beberapa alasannya adalah HIV adalah penyakit yang ditakuti, namun tidak sepenuhnya dipahami oleh banyak orang. Sebagian orang masih memercayai hal yang salah, bahwa HIV dapat menyebar melalui kontak fisik seperti bersentuhan atau sebatas berbagi gelas. Hal ini membuat ODHIV cenderung dijauhi.

    HIV dan AIDS sering diidentikkan dengan pelaku perilaku tertentu seperti pengguna obat terlarang dan pelaku seks bebas. Stigma ini membuat orang beranggapan bahwa virus tersebut diidap karena lemahnya moral ODHIV. Dengan stigma sosial, muncullah diskriminasi terhadap ODHIV, seperti dikeluarkan dari kantor atau sekolah karena mengungkapkan diri sebagai ODHIV atau tidak diperkenankan menggunakan fasilitas umum seperti tempat ibadah.

    Pemerintah dan profesional medis tentunya berperan penting dalam mengurangi stigma masyarakat umum terhadap ODHIV. Edukasi mengenai ODHIV dapat meningkatkan pengertian masyarakat tentang penyakit ini. Berikut beberapa cara meningkatkan pemahaman tentang HIV/AIDS seperti dilansir Alodokter pada 1 Desember 2019.

    1. Memberi Tahu Orang Lain
    Stigma-stigma dan diskriminasi di atas sering membuat ODHIV enggan untuk mengungkapkan kondisinya kepada orang lain. Tapi menginformasikan kepada orang-orang tertentu bahwa Anda mengidap HIV sebenarnya membawa banyak manfaat. Beberapa manfaatnya adalah Anda tidak lagi sendirian menjalani hidup dengan HIV. Ada dukungan dan kasih sayang dari orang-orang terdekat yang membuat Anda percaya diri. Manfaat lain, Anda lebih berpeluang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Memilih Status PSBB, Sejumlah Negara Memutuskan Lockdown

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi memutuskan PSBB. Hal itu berbeda dengan sejumlah negara yang telah menetapkan status lockdown atau karantina wilayah.