Kiat Mengontrol Keinginan Belanja Diskon Harbolnas 12.12

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi belanja online / e-commerce. freepik.com

    Ilustrasi belanja online / e-commerce. freepik.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Berbagai diskon besar-besaran sudah digaungkan untuk menyambut Hari Belanja Nasional (Harbolnas) 12 Desember 2019, mulai dari gerai makanan, pakaian, hingga kebutuhan dasar rumah tangga pun membanting harga sebagai bentuk apresiasi bagi konsumen. Buat yang gemar berbelanja tentu tak ingin melewatkan Harbolnas 12.12.

    Namun, jika dilakukan secara berlebihan, hal ini tentu tidak baik. Untuk mengontrol nafsu berbelanja, situs Financial Best Life dan Very Well Mind membagikan beberapa tips.

    Menyalakan fitur pembagian akun di rekening
    Melakukan hal ini penting, Anda harus membagi kantong-kantong yang diisi dengan sebagian uang untuk digunakan. Misalnya, Anda mengisinya dengan satu juta, itu berarti Anda hanya memiliki limit tersebut untuk belanja. Saat lebih dari itu, Anda pun dipastikan tidak bisa lagi berbelanja sehingga nafsu berburu diskon menjadi terkontrol.

    Mengganti pembayaran digital dengan pembayaran tunai
    Memang, ini bukan hal yang mudah dan tidak efisien sebab pembayaran digital sering diimbangi dengan tambahan diskon yang lebih besar sehingga dianggap mampu menghemat pengeluaran. Padahal, hal ini merupakan strategi perusahaan agar seseorang bisa lebih konsumtif sehingga membawa dan membayar dengan uang tunai lebih disarankan jika ingin mengerem nafsu berbelanja.

    Mulai memikirkan masa depan
    Apa yang harus Anda lakukan di masa datang? Membeli rumah atau memiliki kendaraan pribadi? Hal ini harus selalu dipikirkan sebelum merealisasikan nafsu berbelanja sebab jika tahu bahwa ada beban besar di depan, Anda tentu dengan sendirinya akan mengerem keinginan untuk berbelanja.

    Hal ini juga bisa dipadani dengan mengubah gaya hidup dengan kebiasaan akhir bulan (mengirit) yang ditukar dengan awal bulan (boros) sehingga nantinya akan merasakan jika uang tersebut masih banyak dan dapat diinvestasikan. Ini justru memberi nilai positif untuk membantu penambahan aset.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).