Penderita Diabetes Juga Boleh Lari, Namun Perhatikan Hal Berikut

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi lari (pixabay.com)

    Ilustrasi lari (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Sama seperti orang sehat, penderita diabetes juga bisa olahraga lari untuk menjaga kebugaran. Namun, ada sejumlah hal yang perlu diketahui.

    Pakar kesehatan dr. Rudy Kurniawan mengatakan lari sebaiknya dilakukan yang belum mengalami komplikasi, khususnya pada kardiovaskular, bukan penderita obesitas, dan mereka dengan pradiabetes.

    "Misalnya, penyandang diabetesnya berusia 50 tahunan, obesitas, dengan komplikasi kardiovaskular. Tentu kami tidak merekomendasikan lari karena membebani kardiovaskular. Kalau pasien obesitas tentu beban ke sistem gerak sendi, akhirnya juga berbahaya," katanya.

    Sebaliknya, mereka dengan pradiabetes dan diabetes yang belum mengalami komplikasi, lari dengan teknik yang tepat bisa menyehatkan. Namun, sesuaikan jarak dan durasi dengan kemampuan individu.

    Sebelum lari, persiapkan juga peralatan, khususnya sepatu yang nyaman dan tepat agar tidak muncul masalah baru di kaki, sendi, dan lainnya. Perhatikan juga batasan kemampuan tubuh dan mulailah dari jarak pendek jika baru menerapkan lari sebagai bagian dari gaya hidup.

    "Tahu batasan untuk berhenti. Jangan memaksakan 10 kilometer karena mengikuti orang lain. Coba dulu lari jarak pendek, 1-2 km, yang penting fun. Setelah rutin, bisa lebih jauh 5 kilometer," tutur Rudy.

    Selain itu, para penyadang diabetes dan pradiabetes juga perlu waspada bila suatu saat mengalami gejala hipoglikemia, segera mengambil pertolongan pertama, yakni konsumsi makanan manis.

    "Bagi yang diabetes, gula mudah drop dan naik karena keseimbangannya tidak terlalu bagus. Biasanya, mereka kalau mau hipo sudah merasa, apalagi kalau sudah lama. Siap-siap harus ada camilan," ujar Rudy.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.