Kasus Reynhard Sinaga, Mengapa Kekerasan Seksual Terjadi?

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para korban Reynhard Sinaga mengaku diberukan minuman alkohol yang telah diberi obat bius saat diajak ke apartemennya di Montana House. manchestereveningnews.co.uk

    Para korban Reynhard Sinaga mengaku diberukan minuman alkohol yang telah diberi obat bius saat diajak ke apartemennya di Montana House. manchestereveningnews.co.uk

    TEMPO.CO, Jakarta - Kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh mahasiswa asal Indonesia di Inggris, Reynhard Sinaga mengejutkan banyak pihak. Reynhard dihukum seumur hidup oleh Pengadilan Manchester, Inggris karena terjerat kasus pemerkosaan dan kekerasan seksual terhadap nyaris 200 pria di Inggris.

    Ada beberapa faktor pemicu terjadinya kasus pemerkosaan dan kekerasan seksual seperti yang dilakukan Reynhard Sinaga. Dokter spesialis penyakit jiwa Gina Anindyajati mengatakan bahwa pertama, ini berhubungan dengan faktor individu.

    Bagi pelaku kekerasan seksual, paparan dari banyaknya perlakuan negatif bisa menyebabkan seseorang melakukan hal serupa. “Semakin dia terekspos hal berbau kekerasan, dia juga memiliki risiko yang besar untuk menerapkan kekerasan yang sama kepada orang lain juga,” katanya katanya dalam acara Info Sehat Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di Jakarta pada Jumat, 10 Januari 2020.

    Faktor keluarga juga bisa menjadi pemicu kekerasan seksual lainnya. Gina mengatakan bahwa keluarga yang miskin dan pengangguran membuat mereka rentan mengalami kekerasan. “Begitu pula dengan yang kaya, karena sibuk cari uang sehingga komunikasi antar anggota keluarga buruk dan memicu kekerasan,” katanya.

    Ketiga, faktor komunitas juga sangat berdampak untuk meningkatkan seseorang menjadi pelaku kekerasan seksual. Sebab, lingkungan sekitar akan menentukan sikap kita. “Kalau terbiasa di lingkungan yang kasar dan penuh kekerasan, kita pun akan hidup seperti itu juga,” katanya.

    Faktor budaya menjadi penyebab keempat. Gina mengatakan bahwa budaya beberapa negara memang menjunjung patriarki. “Ketika pria ditempatkan lebih tinggi dari wanita, mereka akan menganggap seks sebagai hak. Sehingga kekerasan seksual bisa dilakukan,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 283 Jenazah Dikuburkan dengan SOP Covid-19 di DKI Jakarta

    Anies Baswedan menyebut Dinas Kehutanan dan Pertamanan telah mengubur 283 jenazah dengan SOP Covid-19. Jumlah penguburan melonjak pada Maret 2020.