Empat Mitos Negatif Tabir Surya yang Masih Dipercaya Orang, Tahu?

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi tabir surya (Pixabay.com)

    Ilustrasi tabir surya (Pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Ahli kesehatan kulit menyarankan tabir surya digunakan saat berkegiatan di luar ruangan demi menghindari penuaan dini dan risiko terkena kanker kulit. Namun, ada sebagian orang yang merasa tak membutuhkannya karena ada klaim produk ini lebih banyak sisi negatif ketimbang positifnya.

    Dari sederet klaim sisi negatif, berikut empat di antaranya yang masih berkembang dan perlu Anda catat hanya sebagai mitos seperti dilansir Medical Daily. Apa saja?

    1. Tabir surya bisa jadi racun
    Badan Pengawas Pangan dan Obat-Obatan Amerika Serikat (FDA) mengungkapkan studi yang menunjukkan, bahan-bahan yang terkandung dalam tabir surya antara lain avobenzone, oxybenzone, octocrylene and ecamsule, bisa mencapai darah. Studi itu mengarahkan para konsumen menggunakan produk tabir surya.

    Namun, ada jumlah tertentu pemakaian tabir surya yang dioleskan ke kulit agar bahan-bahannya bisa masuk ke kulit dan bercampur dengan darah. Menurut Katie Lee dan Monika Janda, profesor ilmu perilaku dari University of Queensland di Australia, studi ini hanya melibatkan orang-orang yang menggunakan tabir surya tebal empat kali sehari. Selain itu, tidak ada bukti bahan-bahan tersebut berbahaya dan pengujian lebih lanjut diperlukan untuk sepenuhnya memahami bagaimana tabir surya secara langsung mempengaruhi tubuh.

    2. Orang dewasa bisa berhenti pakai tabir surya
    Kulit terbakar pada masa kanak-kanak telah dikaitkan dengan melanoma dan karsinoma sel basal. Beberapa orang percaya terbakar sinar matahari berdampak kurang pada kulit mereka seiring bertambahnya usia. Namun, paparan sinar matahari pada usia berapa pun meningkatkan risiko kanker kulit dan menggunakan tabir surya dapat membantu orang tua dan muda mengurangi risiko masalah kesehatan ini.

    "Penggunaan tabir surya juga mengurangi keratosis aktinik baru, lesi kulit prakanker dan mengurangi jumlah keratosis yang ada di Australia lebih dari 40 tahun," kata Lee dan Janda dalam sebuah artikel. Penggunaan tabir surya secara teratur juga bisa menjadi rem penuaan kulit, membantu mengurangi ketipisan kulit, mudah memar dan penyembuhan yang buruk yang membuat kulit yang lebih tua rentan terkena.

    3. Efek tabir surya bisa bahayakan tulang
    Ada laporan tabir surya dapat berdampak negatif pada tulang karena menghambat vitamin D. Orang percaya produk ini mencegah sinar UV mencapai kulit, yang menyebabkan kekurangan vitamin.

    Namun, penelitian menunjukkan, orang yang menggunakan tabir surya dan mereka yang tidak memiliki vitamin D, berbeda. "Anda membutuhkan jauh lebih sedikit UV daripada yang Anda pikirkan untuk membuat vitamin D yang Anda butuhkan: hanya sepertiga dari UV yang menyebabkan kulit terbakar," kata Lee dan Janda.

    4. Riwayat penyakit keluarga hambat efek tabir surya
    Orang-orang juga mengabaikan tabir surya karena mereka sudah memiliki riwayat kanker kulit dalam keluarga mereka. Memang benar genetika berkontribusi terhadap melanoma.

    Namun, tabir surya masih menawarkan manfaat kesehatan bagi orang-orang dengan riwayat kanker keluarga. Produk ini mengurangi paparan sinar matahari, yang pada tingkat tinggi dapat membuat orang lebih mungkin untuk mengembangkan penyakit yang dikombinasikan dengan risiko genetik mereka.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cesium 137 dan Bahaya Radiasi Pada Tubuh Manusia

    Cesium 137 adalah bahan radioaktif yang digunakan berbagai industri dan pengobatan. Bila salah dikelola, bahan itu akan menimbulkan sejumlah penyakit.