Kena Polusi Sejak Kecil, Awas Risiko Skizofrenia saat Dewasa

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi polusi udara (Pixabay.com)

    Ilustrasi polusi udara (Pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Polusi udara mempengaruhi kesehatan fisik seseorang. Hasil penelitian dalam jurnal JAMA Network Open menyimpulkan bahwa anak-anak yang terpapar polusi udara tingkat tinggi berisiko lebih tinggi terkena skizofrenia di masa dewasa. "Studi ini menunjukkan semakin tinggi tingkat polusi udara, semakin tinggi risiko skizofrenia. Anak-anak yang terpapar di atas 25 g / m3 berisiko 60 persen lebih besar terkena skizofrenia dibandingkan dengan mereka yang terpapar kurang dari 10 g / m3," kata Peneliti Senior Henriette Thisted Horsdal seperti dilansir Science Daily.

    Dengan kata lain, risiko mengembangkan skizofrenia sekitar dua persen, setara dengan dua dari seratus orang menderita skizofrenia selama hidup mereka. Kemudian, bagi mereka yang terpapar pada tingkat polusi udara terendah, risiko terkena skizofrenia di bawah dua persen.

    Skizofrenia adalah gangguan mental yang terjadi dalam jangka panjang. Gangguan ini menyebabkan penderitanya mengalami halusinasi, delusi atau waham, kekacauan berpikir dan perubahan perilaku. Gejala awal skizofrenia umumnya muncul di masa remaja sehingga sering disalahartikan karena dianggap wajar pada masa remaja. Gejala ini antara lain cenderung mengasingkan diri dari orang lain, mudah marah dan depresi, perubahan pola tidur, kurang konsentrasi dan motivasi.

    Thisted mengatakan, risiko seseorang mengembangkan skizofrenia lebih tinggi jika kecenderungan genetik untuk penyakit ini. "Hubungan antara polusi udara dan skizofrenia tidak dapat dijelaskan dengan riwayat genetik pada orang yang tumbuh di daerah dengan tingkat polusi udara yang tinggi," kata dia.

    Untuk studi ini, peneliti melibatkan 23.355 orang dan 3.531 orang di antaranya mengembangkan skizofrenia. Meskipun hasilnya menunjukkan peningkatan risiko skizofrenia ketika tingkat polusi udara selama masa kanak-kanak meningkat, para peneliti tidak dapat menjelaskan penyebabnya. Mereka menekankan, perlunya studi lebih lanjut untuk dapat mengidentifikasi penyebab.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 283 Jenazah Dikuburkan dengan SOP Covid-19 di DKI Jakarta

    Anies Baswedan menyebut Dinas Kehutanan dan Pertamanan telah mengubur 283 jenazah dengan SOP Covid-19. Jumlah penguburan melonjak pada Maret 2020.