Tips bagi Orang Tua untuk Kembangkan Resiliensi Anak

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak bermain sendiri. Pexels.com

    Ilustrasi anak bermain sendiri. Pexels.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Saat ini kita hidup dalam VUCA World, di mana dunia selalu bergerak (volatile), tidak pasti (uncertain), kompleks (complex), dan ambigu (ambiguous). Itu berarti, perkembangan serbacepat, penuh ketidakpastian, dan sangat kompetitif akan dialami oleh setiap manusia.

    Mereka juga akan dihadapkan dengan berbagai tantangan dari luar, mulai dari isu sosial sampai perubahan iklim, tidak terkecuali tantangan dari dalam diri sendiri. Untuk itu, penting bagi orang tua untuk mengasah kemampuan resiliensi anak sejak dini.

    “Karakter resiliensi itu kemampuan untuk menghadapi tantangan serta memiliki mental untuk bangkit jika menemui kegagalan,” kata psikolog keluarga dari Rumah Dandelion, Nadya Pramesrani, dalam keterangan pers yang diterima Tempo.co pada Selasa, 14 Januari 2020.

    Dalam mengembangkan resiliensi anak, Nadya pun mengatakan pengalaman bermakna atau purposeful exposure dapat dilakukan. Artinya, orang tua dengan sengaja memberikan tantangan-tantangan yang sesuai dengan usia dan kapasitas anak agar tahu batas diri sampai mana, kemampuan diri sampai mana, dan apa yang ia miliki untuk menghadapi masalah.

    “Hal ini perlu dilakukan agar si kecil terbiasa menghadapi tantangan dan ketidakpastian dan fokus pada cara penyelesaian yang paling efektif,” ungkapnya

    Adapun, tips yang dibagikan Nadya berdasarkan usia. Untuk anak yang berada di usia 1-3 tahun, ia menyarankan agar mendapatkan pelajaran resiliensi melalui traveling dan outbound.

    “Saat traveling dan outbound, anak akan bergerak aktif di luar ruangan. Mereka pun mendapatkan kesempatan untuk beradaptasi dengans situasi dan mencoba hal baru,” jelasnya.

    Sedangkan bagi anak yang berusia 4-6 tahun, Nadya mengimbau untuk mengarahkan materi resiliensi melalui belajar keahlian dan mencoba pengalaman baru serta mengikutsertakan anak dalam kompetisi.

    “Anak-anak bisa mencoba hal baru setiap saat agar menemukan tantangan baru. Dengan berkompetisi, mereka juga dipicu untuk mengatasi tantangan dengan baik,” tuturnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?