Khasiat Teh untuk Cegah Depresi pada Lansia

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi teh (pixabay.com)

    Ilustrasi teh (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Penelitian telah membuktikan ada hubungan antara depresi dan minum teh. Baru-baru ini, sebuah studi menyelidiki hubungan ini lebih lanjut.

    Depresi umum terjadi pada orang lanjut usia dengan 7 persen berusia di atas 60 tahun. Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi kemungkinan penyebab, yang meliputi kecenderungan genetik, status sosial ekonomi, dan hubungan dengan keluarga, mitra hidup, dan masyarakat luas.

    Sebuah studi oleh para peneliti dari Universitas Nasional Singapura (NUS) dan Universitas Fudan di Shanghai memunculkan kemungkinan lain. Penelitian menemukan hubungan yang signifikan secara statistik antara minum teh dan tingkat depresi yang lebih rendah pada manula.

    Sementara itu para peneliti belum membangun hubungan sebab akibat antara teh dan kesehatan mental. Penemuan mereka, yang muncul dalam BMC Geriatrics, menunjukkan hubungan yang kuat.

    Teh populer di kalangan lansia. Berbagai penelitian baru-baru ini menyelidiki efek menguntungkan potensial dari minuman tersebut. Sebuah studi terpisah dari NUS yang muncul pada Juni 2019, misalnya, menemukan teh mungkin memiliki sifat yang membantu area otak menjaga fungsi kognitif yang sehat.

    "Studi kami menawarkan bukti pertama dari kontribusi positif minum teh pada struktur otak dan menunjukkan efek perlindungan terhadap penurunan terkait usia dalam organisasi otak," kata Li Junhua, penulis utama penelitian, dilansir Medical News Today.

    Makalah sebelumnya juga mengutip penelitian yang menunjukkan bahwa teh dan kandungan berupa katecin, L-teanin, dan kafein dapat menghasilkan efek positif pada suasana hati, kemampuan kognitif, kesehatan jantung, dan pencegahan kanker.

    Namun, mendefinisikan peran teh yang tepat dalam mencegah depresi terbilang sulit, terutama karena konteks sosial di mana orang sering mengonsumsinya. Khususnya di negara seperti Cina, interaksi sosial itu sendiri dapat menjelaskan sebagian atau bahkan semua manfaat minuman.

    Feng Qiushi dan Shen Ke memimpin studi baru, yang melacak kovariat ini dan lainnya, termasuk jenis kelamin, pendidikan, dan tempat tinggal, serta status perkawinan, dan pensiun. Tim ini juga memperhitungkan kebiasaan gaya hidup dan detail kesehatan, termasuk merokok, minum alkohol, kegiatan sehari-hari, tingkat fungsi kognitif, dan tingkat keterlibatan sosial.

    Setelah para peneliti mengklasifikasikan setiap orang sebagai salah satu dari empat jenis peminum teh sesuai dengan seberapa sering minum minuman itu, mereka menyimpulkan, "Peminum harian yang konsisten, mereka yang minum teh hampir setiap hari sejak usia 60, secara signifikan dapat memperoleh manfaat dalam kesehatan mental."

    Para peneliti menganalisis data dari 13.000 orang yang ambil bagian dalam Chinese Longitudinal Healthy Longevity Survey (CLHLS) antara 2005 dan 2014. Mereka menemukan hubungan yang hampir universal antara minum teh dan menurunkan laporan depresi.

    Faktor-faktor lain tampaknya mengurangi depresi juga, termasuk tinggal di lingkungan perkotaan dan terdidik, menikah, nyaman secara finansial, dalam kesehatan yang lebih baik, dan terlibat secara sosial. Data juga menunjukkan bahwa manfaat minum teh paling kuat untuk pria berusia 65 hingga 79 tahun.

    Feng Qiushi menyarankan penjelasan. "Sangat mungkin bahwa manfaat minum teh lebih jelas untuk tahap awal kemunduran kesehatan. Lebih banyak penelitian pasti diperlukan sehubungan dengan masalah ini," lanjutnya.

    Proporsi peminum teh yang lebih tinggi adalah penduduk yang lebih tua, laki-laki, dan penduduk kota. Selain itu, mereka lebih cenderung terdidik, menikah, dan menerima pensiun.

    Peminum teh juga menunjukkan fungsi kognitif dan fisik yang lebih tinggi dan lebih terlibat secara sosial. Di sisi lain, mereka juga lebih cenderung minum alkohol dan merokok. Qiushi sebelumnya mempublikasikan hasil dari efek minum teh pada populasi yang berbeda. Singapura menemukan hubungan yang mirip dengan tingkat depresi yang lebih rendah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.