Tapioka dalam Bubble Tea Ternyata Minim Nutrisi, Suka Minum Itu?

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi bubble milk tea. (Pixabay.com)

    Ilustrasi bubble milk tea. (Pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Tapioka yang menjadi bahan utama dari bubble dalam minuman bubble tea, memang bukanlah bahan makanan yang memiliki kandungan gizi yang tinggi. Bahan yang didapat dari singkong ini, sebagian besarnya terdiri dari zat nabati yang sangat tinggi kandungan karbohidrat, dan hanya mengandung sangat sedikit serat, protein, maupun nutrisi lainnya. Meski begitu, bukan berarti tapioka pasti akan menyebabkan penumpukan di saluran pencernaan dan tidak bisa dicerna sama sekali.

    Tapioka, terutama jika dikonsumsi dalam bentuk olahan seperti pearl pada bubble tea, tidak memiliki kandungan nutrisi yang baik. Manfaatnya untuk kesehatan pun dinilai sangat minim.

    Meski kandungan kalori yang cukup tinggi di dalamnya bisa memberikan energi, namun Anda tetap saja tidak akan mendapatkan manfaat kesehatan yang berarti. Apalagi, tapioka tersebut kemudian dicampur dengan begitu banyaknya gula yang terdapat dalam seporsi bubble tea.

    Selain itu, jika sedang berusaha untuk diet, terlepas dari bisa atau tidaknya tapioka dicerna tubuh, Anda tetap harus membatasi konsumsinya. Pasalnya, banyaknya kalori yang terkandung di dalam tapioka, akan membuat Anda dengan mudah mengalami kenaikan berat badan.

    Mengonsumsi bubble tea memang tidak dilarang. Namun, Anda perlu ingat dampak yang bisa ditimbulkannya, jika dikonsumsi secara berlebihan dan dalam jangka waktu lama. Jaga selalu kesehatan pencernaan Anda dengan selalu mengonsumsi makanan bergizi seimbang, dan berolahraga secara teratur.

    Perhatikan juga lokasi penjualan bubble tea yang Anda kunjungi. Pilihlah penjual yang benar-benar menggunakan tapioka murni untuk membuat tapioca pearl, dan tidak menggunakan bahan-bahan kimia, yang bisa berbahaya bagi tubuh.

    SEHATQ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.