Organic Parenting Bantu Anak Melatih Sensor Motoriknya

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pangeran William dan istrinya Kate Middleton, bermain bersama anak-anaknya Pangeran George dan Pangeran Louis di taman yang desain bersama Adam White dan Andree Davies di  RHS Chelsea Flower Show di London, Inggris 19 Mei 2019. Matt Porteous/PA Wire/Handout via REUTERS

    Pangeran William dan istrinya Kate Middleton, bermain bersama anak-anaknya Pangeran George dan Pangeran Louis di taman yang desain bersama Adam White dan Andree Davies di RHS Chelsea Flower Show di London, Inggris 19 Mei 2019. Matt Porteous/PA Wire/Handout via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Generasi Milenial kini telah menjadi orang tua yang melahirkan Generasi Alfa. Survei yang dilakukan oleh Pew Research Center menemukan, 57 persen ibu milenial percaya dan merasa sudah melakukan pekerjaan yang sangat baik sebagai orang tua, dibandingkan dengan 48 persen ibu dari Gen X, dan 41 persen ibu dari kalangan baby boomer. Organic parenting merupakan pola pengasuhan untuk mengajarkan anak hidup lebih ramah lingkungan.

    Organic parenting sendiri sebenarnya bukan hal baru, meski terdengar kekinian. “Organic parenting bukan baru berkembang belakangan ini. Tapi makin banyak orang tua milenial yang teredukasi untuk mencari pola asuh yang lebih tepat untuk anak-anak. Lalu terpaparlah dengan informasi soal organic parenting,” kata Psikolog Ayoe Soetomo. Berdasarkan perjumpaannya dengan orang tua milenial di ruang praktik, makin banyak orang tua yang menerapkan organic parenting untuk anak-anak mereka.

    Organik sering dikaitkan dengan segala sesuatu yang alami. Demikian pula dengan organic parenting. “Pada dasarnya, anak dibesarkan dalam pola pengasuhan yang dekat dengan alam, ramah lingkungan, dan menggunakan semua yang natural,” ujar Ayoe.

    Ini tidak hanya soal asupan makanan, tapi juga semua aspek yang terlibat dalam tumbuh kembang anak. Termasuk di dalamnya aktivitas, dan interaksi antara anak dan orang tua. Ini menjadi hal yang sangat penting. Terlebih, kita menjalani ritme kehidupan yang sangat cepat. Semua ini bisa membuat ikatan emosi antara anak dan orang tua berkurang. “Padahal untuk sukses, anak sangat membutuhkan support emosi yang baik dari orang tua, sehingga ia memiliki kecerdasan emosi yang bagus,” kata Ayoe. Ia melanjutkan organic parenting bisa menjadi penyeimbang, agar anak tetap mendapat stimulasi yang baik.

    Begitu banyak manfaat organic parenting untuk anak. Dengan mendekatkan anak ke alam, anak mendapat stimulasi sensorik penuh. Saat ia berlari-lari di alam bebas, tercipta stimulasi dari kepala sampai kaki. Demikian pula saat bersepeda. “Otak kanan dan kiri terstimulasi, anak belajar keseimbangan, otot dan tulangnya pun jadi kuat,” ucap Ayoe. Belum lagi bila misalnya ia jatuh, “Kita suruh ia untuk bangun. Itu adalah support baginya.”

    Anak juga menjadi lebih percaya diri dengan organic parenting. Saat berada di alam, misalnya berkemah, tantangannya sangat besar. Anak pun belajar untuk menyelesaikan masalah, berinteraksi dengan orang lain, hingga membuat perencanaan dengan baik; misalnya menghemat baterai. “Ini adalah modal besar untuk membangun kepercayaan diri anak. Karakter anak pun jadi kuat karena siap menghadapi tantangan,” kata Ayoe.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.