Jajanan Imlek, yang Hits Bukan Hanya Kue Keranjang

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga keturunan Tionghoa memasang lampion saat persiapan menyambut tahun baru Imlek 2571 di Klenteng Hok Tek Tong Parakan, Temanggung, Jateng, Selasa 21 Januari 2020. Menyambut tahun baru Imlek 2571 dengan shio Tikus Logam warga keturunan Tionghoa di kota

    Warga keturunan Tionghoa memasang lampion saat persiapan menyambut tahun baru Imlek 2571 di Klenteng Hok Tek Tong Parakan, Temanggung, Jateng, Selasa 21 Januari 2020. Menyambut tahun baru Imlek 2571 dengan shio Tikus Logam warga keturunan Tionghoa di kota "Bambu Runcing" membersihkan dan memasang berbagai hiasan di salah satu klenteng tertua di Jawa Tengah tersebut. ANTARA FOTO/Anis Efizudin

    TEMPO.CO, Jakarta - Gong Xi Fat Cai. Perayaan Imlek rasanya tak lepas dari hadirnya sajian berbagai makanan tradisional. Tiap tahun, jajanan Imlek menjadi salah satu yang wajib dihidangkan di perayaan tahun baru Cina ini. Di kawasan pecinan Glodok, Jakarta Barat, terdapat beragam makanan dan jajanan tradisional khas Imlek yang terus menjadi incaran para pengunjung. Ada apa saja? Berikut ulasannya.

    1. Kue keranjang
    Jajanan pertama yang harus disajikan saat perayaan Imlek adalah kue keranjang. Kue keranjang dalam bahasa China disebut "nian gao", yang diartikan secara harafiah sebagai "tahun tinggi". Bagi masyarakat Tionghoa, terdapat makna serta filosofi di balik kue dengan tekstur kenyal dan rasa manis mirip dodol itu. "Tekstur yang lembut dan kenyal menggambarkan keuletan dan kegigihan. Lalu kue ini juga tahan lama, yang maknanya penting dalam hubungan kekeluargaan," kata salah satu penjual, Kimkim.

    Pekerja memasukkan kue keranjang ke dalam kardus di rumah industri kue keranjang, Tegal, Jawa Tengah, 30 Januari 2018. Menjelang Imlek, pesanan kue keranjang yang dijual Rp 18.000-22.000 per kilogram itu meningkat hingga 500 persen. ANTARA/Oky Lukmansyah

    Selain itu, makna kekeluargaan juga ditunjukkan melalui bentuk kue yang bulat, yang menggambarkan keterikatan tanpa batas. Rasa manis kue keranjang pun memiliki makna, yakni suka cita dan mampu membahagiakan orang lain. Kue keranjang hadir dalam kemasan dus merah berisikan dua hingga empat buah kue. Ada pula kue keranjang yang hanya berbungkus plastik maupun daun pisang. Jajanan otentik ini dibanderol mulai Rp 35-50 ribu.

    2. Tray of happiness
    Makanan manis lainnya yang identik di perayaan Tahun Baru Imlek adalah satu set manisan dalam wadah berbentuk segi delapan yang dijuluki "tray of happiness". Tray of happiness memiliki banyak makna. Delapan dalam budaya China adalah angka keberuntungan. Set manisan ini terdiri dari aneka buah yang rupanya juga memiliki makna dan filosofi. Koko, penjual manisan di Pecinan Glodok mengatakan pembeli langsung akan mendapatkan set tersebut bersama dengan buahnya tanpa harus memilih sendiri.

    Khas Imlek, Tray of Happiness, di sebuah kios di Pecinan Glodok, Jakarta Barat, Kamis 23 Januari 2020. ANTARA/ Arnindhya Nur Zhafira

    Manisan buah yang ada di tray of happiness yaitu manisan melon - melambangkan kesehatan dan perkembangan hidup. Lalu jeruk kumquat yang melambangkan kemakmuran. Ada pula kelapa kering atau kelapa segar, melambangkan persatuan dan persahabatan. Manisan kelengkeng, melambangkan banyak anak. Lalu biji teratai, melambangkan kesuburan.

    Ada juga buah leci, melambangkan ikatan keluarga yang kuat. Kacang tanah, melambangkan doa agar panjang umur. Terakhir semangka merah yang melambangkan kebahagiaan dan kejujuran.

    Namun, menurut Koko saat ini tray of happiness juga hadir dalam isian lain seperti manisan berbentuk permen yang pembeli bisa pilih sendiri. "Sekarang bisa saja pembeli membawa sendiri wadahnya, lalu diisi sendiri manisan yang dimau. Tapi kalau sudah yang paketan gitu, harganya Rp 50 ribu saja, sama saja jatuhnya," kata pedagang itu.

    3. Jeruk Mandarin
    Dalam Bahasa China, jeruk disebut dengan "chi zhe", yang apabila diartikan secara harafiah adalah rezeki (chi) dan buah (zhe), atau buah pembawa rezeki. Menurut kepercayaan masyarakat Tionghoa, warna oranye cerah ini dianggap sebagai lambang emas atau rezeki berupa uang. "Makna lainnya, jeruk punya rasa asam dan ada yang manis, seperti kehidupan manusia yang tidak selamanya manis. Dan kalau pun merasakan asam kehidupan, masih ada kenangan manis yang bisa didapat," kata Koko.

    Pedagang tengah menata jeruk Imlek di kawasan Meruya, Jakarta, Senin, 20 Januari 2020. Jeruk imlek yang langsung di import dari Cina ini selalu banyak diburu menjelang Tahun Baru Imlek. Tempo/Tony Hartawan

    Jeruk juga diperuntukan untuk dibagi ke keluarga dan kerabat saat Imlek, karena diyakini bahwa kebahagiaan akan bertambah ketika kita memberi. "Cara kita bersyukur, semua rezeki dan kebahagiaan tidak akan pernah habis dan terus mengalir," kata dia melanjutkan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.