4 Hal yang Pantang Dikerjakan saat Hari Raya Imlek

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi keramas. aolcdn.com

    Ilustrasi keramas. aolcdn.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Dalam menyambut Hari Raya Imlek, setiap orang tentu akan mempersiapkan segala sesuatu dengan baik. Namun, perlu diperhatikan bahwa tidak semua hal bisa dikerjakan sebab ada pula beberapa pantangan yang diyakini bisa membawa membuahkan hal negatif.

    Berikut empat pantangan yang wajib dihindari saat Imlek, seperti yang dilansir dari situs China Highlights.

    Dilarang memakai benda tajam
    Tahun Baru Imlek pertanda harus menjauhi pisau, gunting, dan jarum untuk mencegah kecelakaan dan melukai orang. Masyarakat Tionghoa percaya penggunaan benda tajam ini tidak menguntungkan karena bermakna menipiskan kekayaan di tahun mendatang.

    Dilarang berobat atau minum obat
    Tradisi tidak minum obat atau tidak berobat di hari pertama tahun baru diyakini mencegah datangnya penyakit selama setahun. Bahkan, ada beberapa daerah di Cina yang penduduknya sengaja memecahkan pot obat herbal saat lonceng tahun baru berdentang. Mereka meyakini tradisi ini mampu mengusir penyakit di tahun mendatang.

    Dilarang menyapu
    Menyapu dan membuang sampah juga diasosiasikan sebagai menghalau keberuntungan di tahun baru. Menyapu di tahun baru sama saja dengan membuang kemapanan ke luar rumah. Sementara menyapu dilarang, penghuni rumah yang merayakan Imlek diharapkan membuang sampah sebagai simbol membuat keberuntungan atau nasib baik dari rumah.

    Dilarang mencuci pakaian dan rambut
    Pada hari pertama dan kedua tahun baru Imlek, warga Tionghoa dilarang mencuci pakaian karena bertepatan dengan ulang tahun Shuishen, Dewa Air. Rambut juga tidak boleh dicuci pada hari pertama sebab pengucapan dan karakter huruf rambut dalam bahasa Cina sama dengan fai in facai yang bermakna menjadi kaya. Artinya, keramas sama seperti membasuh kekayaan di awal tahun baru.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.