Gus Sholah Wafat, Kenali Gejala Aritmia Jantung

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), memberikan pendapat soal usulan PBNU tentang pemilihan presiden tidak langsung, di rumahnya di Jalan Bangka Raya, Jakarta, 30 November 2019. Tempo/Friski Riana

    Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), memberikan pendapat soal usulan PBNU tentang pemilihan presiden tidak langsung, di rumahnya di Jalan Bangka Raya, Jakarta, 30 November 2019. Tempo/Friski Riana

    TEMPO.CO, Jakarta - Indonesia baru saja kehilangan tokoh penting, yakni KH Ir. Salahuddin "Gus Sholah" Wahid, yang wafat pada Minggu, 2 Februari 2020. Putra almarhum, Irfan Wahid, mengemukakan ayahnya mengalami komplikasi sakit jantung setelah sempat menjalani perawatan di RS Harapan Kita, Jakarta.

    "Ada masalah di jantung, ada cairan di selaput jantung dan dioperasi pada Jumat (31 Januari 2020) itu," kata Ipang Wahid, sapaan karib Irfan Wahid, seperti dikutip dari Antara.

    Menurutnya, tokoh Nahdlatul Ulama (NU) itu mengalami detak jantung yang tidak normal sekitar dua pekan sebelumnya. Tim dokter di RS Harapan Kita Jakarta kemudian melakukan ablasi atau tindakan operasi terhadap jantung.

    Apa itu ablasi?
    Dikutip dari Wikipedia, ablasi merupakan suatu tindakan operasi untuk mengatasi gangguan irama jantung atau aritmia dengan menggunakan kateter yang dimasukkan ke dalam ruang dalam jantung, dan kateter dihubungkan dengan mesin khusus yang memberikan energi listrik untuk memutus (membakar) jalur konduksi tambahan ataupun fokus-fokus aritmia yang menyebabkan ketidaknormalan irama jantung.

    Dikutip dari www.siloamhospitals.com, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dr. Hendyono Lim, Sp. JP, aritmia merupakan gangguan pada detak jantung atau irama jantung yang ditandai dengan detak jantung yang tidak teratur, bisa terlalu cepat atau terlalu lambat.

    Menurut Hendyono, gangguan ini sangat berkaitan dengan kondisi kardiovaskular, seperti tekanan darah tinggi, gagal jantung, penyakit katup jantung, dan penyakit arteri koroner.

    Oleh karena itu, aritmia tidak bisa dianggap sepele karena bisa meningkatkan risiko stroke. Dalam beberapa kasus bahkan menjadi menyebab kematian mendadak.

    Pemicu detak jantung tidak normal
    Dikatakan, tidak selamanya kondisi jantung bermasalah akan mengalami aritmia. Hal ini karena seseorang yang memiliki jantung sehat juga berpotensi terkena aritmia jika berada dalam kondisi sebagai berikut:

    Penyalahgunaaan alkohol
    Diabetes
    Konsumsi kafein berlebihan
    Penyakit jantung
    Hipertensi
    Gangguan hormonal (contoh hipertiroid)
    Tegang atau stres emosional
    Jaringan parut di jantung menjadi pemicu serangan jantung
    Merokok
    Mengonsumsi obat-obatan

    Gejala aritmia yang patut diwaspadai
    Hendyono memaparkan, kebanyakan kasus gangguan detak jantung sering timbul tanpa gejala apapun, sehingga membuat seseorang tak sadar jika dirinya terkena aritmia. Namun, sebagian kasus lain menimbulkan gejala. Waspadai jika gejala yang timbul seperti di bawah ini:

    Hilangnya kesadaran secara tiba-tiba
    Kesulitan bernapas
    Sakit kepala
    Sakit pada bagian dada yang terasa seperti tertusuk, perih, dan tertekan
    Badan terasa tidak bertenaga atau mudah lelah
    Jantung berdetak lebih lambat dari detak jantung normal (bradikardia)
    Jantung berdetak sangat cepat melebihi detak jantung normal atau lebih dari 100 kali per menit (takikardia).

    “Untuk memastikan normal atau tidaknya detak jantung, bisa melakukan pemeriksaan mandiri,” ujarnya.

    Caranya, tempelkan tiga jari di pergelangan tangan, hitung denyut nadi selama 15 detik. Kalikan hasilnya dengan 4 untuk mendapat angka denyut nadi istirahat per menit. Hati-hati, jika hasilnya lebih lambat atau lebih cepat karena dalam kondisi normal, jantung akan berdetak sebanyak 60-100 kali per menit.

    Agar mendapat hasil lebih pasti, Anda bisa melakukan pemeriksaan ke dokter. Terlebih lagi jika memiliki riwayat penyakit hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung. Biasanya, Anda akan diikutkan dalam pemeriksaan lanjutan, seperti echo jantung, elektrokardiogram (EKG), serta uji latih jantung.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.