Heboh Virus Corona, Kekebalan Tubuh Pengaruhi Penularan

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah penumpang maskapai China Eastern tujuan Shanghai China mengantre untuk melakukan boarding di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Rabu 5 Februari 2020. China Eastern merupakan pesawat terakhir yang melakukan penerbangan setelah pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perhubungan memutuskan mulai tanggal 5 Februari 2020 jam 00.00 WIB hingga batas waktu yang belum ditentukan, menunda penerbangan dari dan menuju daratan Cina terkait terus berkembangnya kasus penyebaran Virus Corona. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal

    Sejumlah penumpang maskapai China Eastern tujuan Shanghai China mengantre untuk melakukan boarding di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Rabu 5 Februari 2020. China Eastern merupakan pesawat terakhir yang melakukan penerbangan setelah pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perhubungan memutuskan mulai tanggal 5 Februari 2020 jam 00.00 WIB hingga batas waktu yang belum ditentukan, menunda penerbangan dari dan menuju daratan Cina terkait terus berkembangnya kasus penyebaran Virus Corona. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal

    TEMPO.CO, Jakarta - Mewabahnya virus corona membuat banyak orang cemas. Padahal, sistem kekebalan tubuh kuat adalah salah satu faktor pencegah seseorang terpapar virus, termasuk virus corona dan ini bisa terpengaruh sejumlah hal, termasuk infeksi.

    "Penderita infeksi dapat mengalami gangguan kekebalan tubuh sehingga sering menderita komplikasi infeksi lain. Misalnya TBC, sepsis," ungkap Direktur Pelayanan Sekunder dan Unggulan, Rumah Sakit Universitas Indonesia, Dr. dr. Sukamto, Sp.PD.

    Obat-obatan, seperti penggunaan kostikosteroid jangka panjang juga bisa mempengaruhi kekebalan tubuh. Oleh karena itu, bagi orang yang mendapatkan obat-obatan tersebut perlu mendapatkan pengawasan agar tidak terjadi komplikasi infeksi. Selain itu, mereka yang mengalami kekurangan gizi, terutama protein, vitamin, dan mineral juga rentan terganggu kekebalan tubuhnya karena ketiga zat itu sangat diperlukan untuk sistem kekebalan.

    "Semua makanan seperti karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, protein dibutuhkan. Orang kurang gizi dibandingkan orang normal mudah sakit. Sistem kekebalan tubuh perlu protein, zat pembentuk imunoglobulin, komplemen, serta sel-sel kekebalan tubuh dan lainnya," papar Sukamto.

    Faktor lain yang mempengruhi sistem kekebalan adalah usia. Pada usia bayi dan balita, sistem kekebalan tubuh belum sempurna sehingga rentan terkena penyakit. Sementara pada yang berusia tua, sistem kekebalan tubuhnya mulai turun.

    Sukamto memaparkan sejumlah cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan imunitas atau sistem kekebalan tubuh, antara lain mengelola stres, rutin beraktivitas fisik, dan menghindari rokok serta alkohol. Stres yang tidak terkendali bisa meningkatkan produksi hormon kortisol. Dalam jangka panjang, peningkatan hormon ini dapat menurunkan fungsi kekebalan tubuh.

    Sukamto menyarankan beraktivitas fisik rutin, yakni selama 30 menit setiap hari untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh melawan infeksi. Sementara itu, paparan asap rokok, rokok dan akohol sebaiknya dihindari karena merusak sistem kekebalan tubuh.

    Perokok dan pecandu alkohol berisiko tinggi mengalami infeksi paru seperti bronkhitis dan pneumonia. Selain itu, vaksinasi, konsumsi suplemen mikronutrien juga bisa menjadi cara meningkatkan sistem kekebalan tubuh.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).