Pakar Sebut Faktor Pemicu Naiknya Angka Penderita Kanker

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi kanker (pixabay.com)

    ilustrasi kanker (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Kanker merupakan penyakit yang sudah menjadi masalah besar dan harus segera ditagani karena berimbas pada penderitaan pasien, kehilangan tenaga kerja maupun anggota keluarga, termasuk beban pemerintah yaitu BPJS Kesehatan.

    Ahli onkologi Profesor DR Aru W Sudoyo mengatakan program deteksi dini atau skrining di Indonesia hingga saat ini masih belum berjalan dengan baik sehingga turut memicu tingginya angka kanker setiap tahun.

    "Kanker itu saat ini di Indonesia sama juga dengan negara berkembang lain, naik dengan amat pesat. Program deteksi dini belum jalan dan kita masih banyak bergerak di fasilitas kesehatan untuk pengobatan," katanya.

    Ia menjelaskan program deteksi dini merupakan sebuah upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengetahui kanker dari stadium dini. Hal itu bisa berbentuk tes maupun pemeriksaan menggunakan alat tertentu.

    "Tentunya harus menyangkut semua rakyat dan biayanya besar sekali," ujarnya.

    Khusus di Indonesia, deteksi dini yang baru jalan yaitu pemeriksaan atau tes Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) atau mendeteksi dini kanker serviks dan hal itu telah didukung oleh Ibu Negara Iriana. Dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 264 juta lebih maka diyakini pemerintah tidak akan mampu menjalankan program deteksi dini pencegahan kanker.

    Oleh karena itu, ia menyarankan dan mendorong agar ada bantuan dari komunitas atau lembaga swadaya masyarakat.

    "Di sini, Yayasan Kanker Indonesia masuk. Kami juga punya program deteksi dini sepanjang kemampuan dan tenaga dengan melakukan edukasi maupun pemeriksaan," katanya.

    Ia menjelaskan tingginya angka kanker juga disebabkan oleh perubahan gaya hidup masyarakat yang sudah semakin kompleks dan rumit. Hal itu bisa dilihat dari tambahan porsi dan pola makan seseorang. Sebagai contoh, seseorang lebih banyak makan yang mengandung lemak dan kurang serat, banyak mengonsumsi makanan cepat saji, dan ditambah pula kurang olahraga.

    "Faktor tersebut lah yang memicu angka penyakit kanker naik pesat," kata Ketua umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI) tersebut.

    Tingginya angka penyakit mematikan itu juga tercatat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), di mana pasien paling dominan yaitu penyakit onkologi atau kanker.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemenag Berikan Pedoman Berkegiatan di Rumah Ibadah saat Pandemi

    Kementerian Agama mewajibkan jemaah dan pengurus untuk melaksanakan sejumlah pedoman ketika berkegiatan di rumah ibadah saat pandemi covid-19.