Ini Tantangan Fashion Muslim Pria Agar tetap Gaya

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Desainer Deden Siswanto dalam acara Konferensi Pers Muffest 2020. TEMPO/Eka Wahyu Pramita

    Desainer Deden Siswanto dalam acara Konferensi Pers Muffest 2020. TEMPO/Eka Wahyu Pramita

    TEMPO.CO, Jakarta - Desainer Deden Siswanto siap menampilkan karyanya di acara Muslim Fashion Festival 2020 (MUFFEST). Jika sebelumnya Deden mengeksplorasi denim, dalam koleksi yang inspirasinya masih dirahasiakan ini, Deden akan membawakan koleksi ragam fashion muslim pria etnik di panggung runway dengan model sarung bekerja sama dengan brand sarung Gajah Duduk.

    "Saya akan membawa menswear dari bahan sarung Gajah Duduk, kolaborasi dengan mereka ada 8 outfit. Menggunakan bahan sarung dan motifnya sudah tersedia dari mereka dengan pilihan warna dasar, monokrom, beige, abu, biru tua," ucap Deden usai ditemui dalam acara konferensi pers MUFFEST di Jakarta, Senin 27 Januari 2020.

    Menurut Deden, dalam merancang busana untuk pria tidak seperti fashion wanita. "Kalau wanita lebih banyak ragamnya sementara pria hanya sebatas koko, kaftan, dan segmented banget pemakainya. Koko lengan pendek, lengan panjang, dan tunik yg pokoknya untuk memudahkan wudu karena pria lebih praktis," katanya.

    Hal tersebut juga menjadi tantangan tersendiri yang harus dipikirkan desainer bagaimana caranya agar busana muslim pria mudah dipakai tapi tetap memiliki gaya. "Jadi sebagai bentuk belajar menghargai agama kalau ibadah tidak hanya pakai kaus oblong saja," katanya.

    Fashion muslim pria diharapkan bisa lebih beragam. Busana wanita syari kan bisa menutupi seluruh tubuh tapi pria juga harus demikian. Sementara menurutnya, pria juga punya selera dan keinginan dalam berpakaian. "Contohnya dengan membuat sarung tidak menonjolkan bagian perut agar tidak terlihat buncit. Bentuk siluet longgar, nyaman dipakai, dan tidak berbau saat berkeringat. Pria kan produksi minyaknya cenderung lebih banyak," katanya.

    Banyak negara yang menjadikan tren busana muslim Indonesia sebagai acuan di negara mereka. Untuk mengakomodir munculnya tren busana muslim terbaru, Indonesian Fashion Chamber (IFC) dan Dyandra Promosindo akan kembali menggelar MUFFEST pada 20-23 Februari mendatang di Jakarta Convention Center.

    Konsumsi fashion muslim di Indonesia setiap tahunnya bertumbuh sekitar 18 persen per tahun. Ini merupakan peluang yang harus dimanfaatkan oleh para pemain industri untuk terus menghasilkan produk fashion yang bisa memenuhi kebutuhan pasar lokal dan internasional. MUFFEST akan menjadi ajang bertemunya para desainer busana muslim Indonesia baik yang sudah memiliki nama maupun desainer muda yang baru merintis jejak mereka di industri fashion Indonesia.

    Beberapa desainer yang akan menampilkan karya mereka selain Deden Siswanto antara lain Ria Miranda, Nuniek Mawardi, Monika Jufry, Sofie, Barli Asmara, Ayu Dyah Andari, ETU, KAMI, Deden Siswanto, Ivan Gunawan, Rani Hatta, Irna Mutiara, Wignyo Rahadi, Lisa Fitria, Raegitazoro, Hannie Hananto, Itang Yunasz, dan lain-lain.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?