Rokok Elektrik dan Biasa, Positif dan Negatifnya Menurut Peneliti

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pria menghisap rokok elektrik. cloudfront.net

    Pria menghisap rokok elektrik. cloudfront.net

    TEMPO.CO, Jakarta - Besarnya risiko kesehatan merokok membuat tidak sedikit orang yang mulai berusaha berhenti merokok, salah satunya dengan beralih ke rokok elektrik atau vape. Sayangnya, penelitian mengenai rokok elektrik di Indonesia masih sangat sedikit dan tidak berasal dari sumber yang dapat dibuktikan secara metodologis.

    Rokok elektrik dianggap hanya memiliki dampak negatif bagi pengguna tanpa melihat manfaatnya sebagai media terapi berhenti merokok. Hal tersebut sangat disayangkan karena masyarakat sudah mengetahui dampak buruk dari rokok konvensional, terutama jika terpapar pada anak-anak, namun tidak mengetahui bagaimana cara mencegahnya bila menggunakan rokok elektrik.

    Amaliya, peneliti dari Universitas Padjajaran dan salah satu pendiri Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik, mengatakan penelitian mengenai rokok elektrik dapat dilakukan dengan metode yang lebih tepat. Menurutnya, uji emisi aldehid dari rokok elektrik di laboratorium sebaiknya dilakukan dengan kondisi yang sesuai dengan yang digunakan oleh penggunanya.

    Ada beberapa penelitian menggunakan kondisi vaping secara bertolak belakang dengan kondisi nyata, misalnya dengan menggunakan alat generasi 1 atau 2 yang sudah tidak dipakai lagi. Selain itu, suhu yang dibuat terlalu panas sehingga menyerupai pembakaran, interval pengeluaran asap atau isapan yang terlalu dekat waktunya, dan cairan yang digunakan melebihi jumlah konsumsi per hari sehingga menghasilkan emisi aldehid yang tinggi.

    “Peneliti harus melakukan observasi terlebih dulu pada pengguna vape, bagaimana kebiasaan dan kondisi apa yang tepat yang bisa disimulasikan di laboratorium sehingga mendekati kondisi nyata penggunaan vaping. Hal ini telah dianalisis oleh peneliti Dr. Farsalinos dkk. (2018) dan telah dipublikasikan pada Food and Chemical Toxicology,” ujarnya.

    Sebagai perbandingan, sebuah studi yang didukung oleh National Institute for Health Research and Cancer Research UK membuktikan bagaimana rokok elektrik dapat menjadi terapi untuk berhenti merokok. Studi yang dilakukan di Inggris tersebut dimulai pada April 2015 dan berakhir pada Maret 2018.

    Penelitian ini bertujuan melihat tingkat pantang yang tervalidasi secara biokimia selama 12 bulan pada perokok yang menggunakan rokok elektrik dibandingkan dengan terapi pengganti nikotin (NRT). Partisipan penelitian berjumlah 886 orang yang berusia 18 tahun ke atas dan merupakan perokok aktif yang sedang mengikuti program berhenti merokok. Peneliti membagi separuh dari total partisipan untuk menggunakan rokok elektrik dan separuhnya lagi menggunakan produk pengganti nikotin (seperti nicotine patch dan permen karet nikotin).

    Semua partisipan studi mendapatkan layanan konseling individual setiap minggu selama empat minggu. Setelah setahun, pengurangan rokok akan terbukti dengan mengukur banyaknya karbon monoksida yang dihirup.

    Hasil temuan pertama dari penelitian itu adalah 18 persen partisipan yang menggunakan rokok elektrik berhasil berhenti merokok selama setahun dan hanya 10 persen yang menggunakan NRT berhenti merokok. Dari total orang yang sukses berhenti merokok tersebut, 80 persen partisipan yang menggunakan rokok elektrik masih menggunakan vape, dan hanya 9 persen pengguna NRT tetap menggunakan produk tersebut.

    Yang tak kalah menarik, laporan batuk dan adanya dahak lebih rendah pada partisipan yang menggunakan rokok elektrik. Dari hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa rokok elektrik lebih efektif untuk menghentikan kebiasaan merokok dibandingkan dengan produk pengganti nikotin. Namun, hal tersebut harus disertai tindakan agar memiliki dampak yang maksimal.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Memilih Status PSBB, Sejumlah Negara Memutuskan Lockdown

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi memutuskan PSBB. Hal itu berbeda dengan sejumlah negara yang telah menetapkan status lockdown atau karantina wilayah.