Mitos dan Fakta Milenial Investasi, Harus Punya Modal Besar?

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi investasi. Shutterstock

    Ilustrasi investasi. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Investasi mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita. Ini adalah salah satu cara yang digunakan dengan menanam modal berupa uang atau aset pada sebuah perusahaan atau perseorangan. Harapannya, ini bisa menghasilkan keuntungan di masa mendatang.

    Meski menggiurkan, rupanya tak sedikit kaum milenial yang belum tertarik untuk berinvestasi. Salah satu alasannya berbagai mitos yang beredar tentang investasi itu sendiri.

    Agar tidak salah dan lebih teredukasi sehingga yakin untuk berinvestasi, Wealth Advisory Head Retail Bank OCBC NISP, Juky Mariska, meluruskan beberapa di antaranya.

    Mitos pertama: Investor harus memiliki modal yang besar
    Beberapa tahun yang lalu, investasi memang membutuhkan modal yang besar. Namun, saat ini hal tersebut sudah tidak berlaku lagi. Juky mengatakan modal bagi masyarakat yang ingin berinvestasi saat ini nominal terkecilnya adalah 100 ribu rupiah.

    “Dengan angka yang kecil ini, tentu akan memudahkan siapa pun dari golongan atas hingga bawah maupun orang dewasa hingga anak muda untuk berinvestasi,” katanya dalam acara #BeraniCuan di Jakarta pada Rabu, 12 Februari 2020.

    Mitos kedua: Investasi sangat menyulitkan dan menguras banyak waktu
    Menurut Juky, hal tersebut tidak benar karena investasi di era modern ini sangat mudah. Dulu, seseorang yang akan berinvestasi mungkin diwajibkan untuk pergi ke bank, mengantre, baru bisa menanam modal. Namun, kini berbagai aplikasi hadir untuk memudahkan para investor berinvestasi.

    “Dari handphone yang Anda pakai, itu bisa langsung berinvestasi. Tidak perlu sulit dan makan waktu ke bank lagi,” jelasnya.

    Mitos ketiga: Investasi dalam menyebabkan kerugian
    Tidak ada usaha yang tidak menyebabkan kerugian. Namun perlu dipahami bahwa hal tersebut dapat diminimalisir jika seseorang memilih berinvestasi pada perusahaan atau perseorangan yang benar.

    “Untuk mengetahui hal ini, Anda harus belajar dan mempercayakannya pada broker. Dia perantara investor atau klien dengan pasar modal. Selama memilih saham dan dipegang oleh orang yang tetap tidak akan merugi,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Memilih Status PSBB, Sejumlah Negara Memutuskan Lockdown

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi memutuskan PSBB. Hal itu berbeda dengan sejumlah negara yang telah menetapkan status lockdown atau karantina wilayah.