Dokter: Jangan Takut Makan Ikan karena Tak Sebarkan Virus Corona

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi ikan mas. Pertanianku

    Ilustrasi ikan mas. Pertanianku

    TEMPO.CO, Jakarta - Virus corona atau Covid-19 adalah salah satu masalah kesehatan yang sedang mewabah di dunia. Bermula dari Wuhan, Cina, pada akhir 2019, hingga kini puluhan ribu orang sudah positif mengalaminya. Bahkan, tidak hanya di Cina, namun 28 negara lain juga terkena dampak dari corona.

    Berbicara mengenai penyebarannya, Covid-19 sering dihubungkan dengan kelelawar. Dokter spesialis paru di Rumah Sakit Persahabatan Jakarta, Erlina Burhan, mengatakan bahwa kelelawar lah yang membawa virus corona.

    “Inang utama virus corona memang asalnya dari kelelawar,” katanya dalam acara Media Briefing di Jakarta pada Rabu, 19 Februari 2020.

    Namun, untuk membawa masuk ke tubuh manusia, virus tersebut harus dipancing dengan reseptor. Erlina mengatakan reseptor akan ditemui pada sebagian besar hewan. Contohnya tikus, ular, dan trenggiling.

    “Ketika mereka ada kontak erat dengan manusia, barulah virus tersebut masuk dan menginfeksi,” katanya.

    Lalu, bagaimana dengan ikan? Erlina menjelaskan masyarakat tak perlu khawatir lantaran ikan tidak memiliki reseptor untuk membawa virus corona.

    “Ikan telah terbukti tidak bisa menjadi inang perantara virus corona dari kelelawar ke manusia karena tidak memiliki reseptor,” katanya.

    Meski begitu, gaya hidup sehat tetap harus dilakukan sebab, menurut Erlina, virus corona dapat dibawa dari manusia yang terinfeksi ke manusia sehat. Contohnya saat yang terinfeksi bersin dan lupa cuci tangan, kemudian menyediakan ikan untuk kita santap.

    “Harus dipastikan tingkat higienitas tinggi dan kita dibekali dengan imunitas tubuh yang sehat untuk melawan corona,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Memilih Status PSBB, Sejumlah Negara Memutuskan Lockdown

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi memutuskan PSBB. Hal itu berbeda dengan sejumlah negara yang telah menetapkan status lockdown atau karantina wilayah.