5 Mitos dan Fakta tentang Penyakit Jantung yang Bikin Bingung

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Serangan Jantung. thestar.com.my

    Ilustrasi Serangan Jantung. thestar.com.my

    TEMPO.CO, Jakarta - Seberapa jauh Anda tahu tentang penyakit jantung dan pembuluh darah? Ada banyak asumsi yang beredar di masyarakat, baik dari isu yang kita dengar dari teman, keluarga ataupun hoax yang beredar di media sosial. Banyak anggapan bahwa penyakit jantung hanya terjadi pada orang yang berusia di atas 65 tahun saja. Yang lain mengatakan penyakit jantung hanya terjadi pada orang- orang yang mengonsumsi makanan berminyak.

    Padahal, penyakit jantung bisa menyerang siapa saja, berapapun umurnya, bahkan pada orang yang sudah menjaga pola konsumsi makanan, termasuk vegetarian. Berikut ini penjelasannya dari Konsultan Kardiologi Intervensi Rumah Sakit Awal Bros, Dasdo Antonius Sinaga dalam keterangan pers yang diterima Tempo pada 19 Februari 2020.

    Dua puluh hingga tiga puluh tahun lalu penyebab kematian utama di dunia adalah penyakit infeksi, namun saat ini penyakit jantung dan pembuluh darah sudah menjadi penyebab kematian teratas di dunia, bahkan lebih daripada kanker yang sangat ditakuti oleh masyarakat. Simak 5 Fakta atau Mitos Penyakit Jantung.

    1. Usia saya terlalu muda untuk terkena penyakit jantung
    Penyakit jantung terjadi karena adanya penyumbatan pembuluh darah jantung yang dikenal sebagai pembuluh arteri koroner. Pembuluh atau urat koroner bisa mengalami penyempitan akibat adanya kerak atau plak lemak yang menempel pada dindingnya. Wajib diketahui bahwa plak ini sudah terbentuk sejak anak-anak atau remaja. Di usia yang lebih tua, arteri koroner akan mengalami penyumbatan (istilah lain untuk penyempitan yang sudah parah). Saat ini, serangan jantung diketahui terjadi pada usia yang lebih muda. Tak jarang di umur 30-40 tahun. Bahkan banyak pula orang di usia 20an tahun yang juga mengalami serangan jantung. Biasanya hal itu terjadi pada jika mengidap penyakit diabetes (penyakit gula) atau memiliki kebiasaan merokok.

    2. Penyakit darah tinggi hanya terjadi pada orang yang bergejala sakit kepala. Jika saya tidak mengeluhkan apa-apa, berarti tekanan darah saya normal.
    Penyakit darah tinggi bisa membunuh secara diam-diam karena seringkali pasien tidak menyadari bahwa tekanan darahnya tinggi. Tekanan darah yang normal adalah 140/90 mmHg. Kita tak bisa tahu berapa tinggi tensi darah kita kalau tidak mengeceknya. Jika menunggu gejala seperti sakit kepala, pusing, pingsan, atau stroke, artinya kita menunggu terjadi komplikasi. Gejala itu adalah tanda bahwa tubuh sudah memberi sinyal bahaya. Lebih baik mengetahui tekanan darah dengan benar-benar mengukur memakai tensimeter secara berkala. Pengobatan tekanan darah meliputi perubahan gaya hidup sehat: makanan rendah garam, berolahraga, mengurangi konsumsi gula, dan jika belum terkontrol, sebaiknya mengonsumsi obat-obatan.

    3. Umur saya sudah tua. Tekanan darah 150-160 mmHg sudah biasa, tidak menyebabkan pusing dan tidak perlu minum obat.
    Tekanan darah yang normal untuk semua umur adalah 140/90 mmHg, dengan target tekanan darah optimal adalah 125-135/60-80 mmHg. Orang tua, walaupun berusia di atas 60 tahun, jika dibiarkan memiliki tekanan darah yang tinggi akan berisiko terjadi stroke dan serangan jantung. Karena tubuh sudah beradaptasi dengan tekanan darah yang lebih tinggi, menurunkan tekanan darah pada orang tua harus dilakukan secara perlahan. Penurunan tekanan darah yang mendadak bisa menyebabkan pusing/goyang saat berjalan. Pusing juga sering terjadi saat perubahan posisi misalnya dari tidur ke duduk, atau sebaliknya. Pemantauan atau kontrol dengan dokter diperlukan sekali agar tidak jatuh saat berjalan.

    4. Saya tidak mengalami sakit dada, artinya saya tidak mengalami sakit jantung. Saya mengalami nyeri di ulu hati, apakah ini sakit jantung atau sakit asam lambung?
    Gejala utama dan paling sering dari serangan jantung adalah nyeri dada atau sesak di dada yang menembus ke punggung, kadang-kadang menjalar ke leher seperti tercekik atau nyeri rahang, atau ke lengan kiri. Namun pada kasus tertentu gejala klasik seperti itu tidak nyata. Banyak pasien mengeluhkan tanda-tanda seperti sakit lambung/sakit maag, seperti nyeri ulu hati, mual dan muntah, pusing, ternyata terkena serangan jantung akut. Sebaliknya juga sama, tidak semua sakit dada merupakan serangan jantung. Nyeri pada bagian dada bisa terjadi karena naiknya asam lambung (dikenal sebagai penyakit GERD/ Gastoesophageal reflux disease), nyeri otot dan tulang, atau sakit kulit. Memeriksakan diri secara awal lebih baik ke dokter sangat dianjurkan agar penanganan yang cepat bisa dilakukan dan mencegah komplikasi yang lebih berat.

    5. Walaupun saya menderita penyakit gula atau diabetes, saya tidak akan terkena penyakit jantung selama mengonsumsi obat-obat diabetes.
    Mengontrol kadar gula darah dengan obat-obatan akan menurunkan risiko atau menghambat terjadinya penyakit jantung. Namun, bahkan jika kadar gula sudah terkontrol, seluruh penderita diabetes memiliki risiko tinggi jadi penyakit jantung dan stroke. Hal ini terjadi karena seluruh faktor yang menyebabkan penyakit gula, juga berpotensi menyebabkan penyakit penyempitan pembuluh darah arteri koroner, termasuk tekanan darah tinggi, kelebihan berat badan dan obesitas, aktivitas fisik yang kurang dan kebiasaan merokok.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?