Orang Suka Marah Pasti Menderita Hipertensi, Mitos atau Fakta?

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi suami marah/pasangan bertengkar. Shutterstock

    Ilustrasi suami marah/pasangan bertengkar. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Tak jarang orang yang suka marah-marah dikaitkan dengan penderita hipertensi atau tekanan darah tinggi. Namun benarkah demikian? Dokter spesialis saraf Amanda Tiksnadi tidak menyetujuinya. Ia menjelaskan bahwa hal tersebut hanya mitos belaka. “Itu kepercayaan masyarakat yang salah,” katanya dalam acara Media Gathering di Jakarta pada Kamis, 20 Februari 2020.

    Amanda menjelaskan bahwa memang, orang yang suka marah-marah akan meningkatkan adrenalin. Adrenalin tersebut menyebabkan pembuluh darah mengecil sehingga tekanan darah meningkat. Meski begitu, fenomena ini tak berbeda dengan aktivitas naik dan turun tangga.

    Menurut Panitia 14th Scientific Meeting Indonesian Society of Hypertension itu, ketika seseorang melakukan aktivitas yang meningkat, memang akan meningkatkan tekanan darah. Namun, bukan berarti hal-hal tersebut bisa menyebabkan hipertensi. Sebab ada perbedaan waktu dari lama lonjakan tekanan darah itu dialami. “Kalau aktivitas meningkat, tekanan darah tinggi terjadi selama beberapa saat dan fluktuatif. Sedangkan hipertensi itu tekanan darah tingginya terus-terusan dan sulit turun,” katanya.

    Walau begitu, Amanda tetap mengingatkan agar masyarakat tidak marah atau berolahraga berlebih. Sebab peningkatan pada tekanan darah yang berkelanjutan bisa memicu pecahnya pembuluh darah. “Pada akhirnya menyebabkan hipertensi juga,” katanya.

    SARAH ERVINA DARA SIYAHAILATUA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.