Waspada, Hipertensi Rentan Menyerang 2 Golongan Orang Ini

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Yosep Arkian

    TEMPO/Yosep Arkian

    TEMPO.CO, Jakarta - Hipertensi adalah salah satu masalah kesehatan yang tak boleh disepelekan. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, sebesar 34,1 persen dari total penduduk Indonesia menderita hipertensi. Itu berarti, sekitar 63 juta orang memiliki tekanan darah tinggi.

    Tekanan darah tinggi termasuk penyakit degeneratif, di mana pasiennya tidak bisa sembuh dan harus mengonsumsi obat setiap hari. Kita tak ingin termasuk dalam bagian orang dengan penyakit ini. Ada dua kelompok orang yang memiliki risiko tinggi untuk mengidap hipertensi. Dokter spesialis jantung Erwinanto pun menjelaskannya.

    Pertama adalah orang-orang dengan berat badan berlebih atau obesitas. Pria yang termasuk dalam anggota Perhimpunan Hipertensi Indonesia itu menjelaskan bahwa mereka dengan badan yang besar akan meningkatkan kandungan lemak jenuh pada aliran darah.

    “Kandungan lemak jenuh yang tinggi itu bisa merusak dinding arteri. Akibatnya, hipertensi pun dapat diderita,” katanya dalam acara Media Gathering di Jakarta pada Senin, 24 Februari 2020.

    Sedangkan golongan kedua yang dimaksudkan Erwinanto adalah orang perokok. Ia menjelaskan penyakit pertama yang sangat rentan dialami para perokok adalah tekanan darah tinggi lantaran kandungan pada tembakau akan masuk pada pembuluh darah.

    “Zat kimia dalam rokok bisa membuat pembuluh darah menyempit, yang pada akhirnya meningkatkan tekanan dalam pembuluh darah,” ungkapnya.

    Erwinanto menjelaskan bahwa kedua golongan yang rentan sebenarnya risikonya dapat diturunkan sebab obesitas dan merokok termasuk dalam gaya hidup. Apabila seseorang rajin berolahraga, mengontrol asupan makanan dan berhenti merokok, maka mereka pun tidak akan masuk dalam kategori risiko tinggi.

    “Pilihan semua ada di tangan Anda. Yang pasti paling banyak orang menderita hiper itu karena obesitas dan merokok. Kalau mau berubah, Anda pasti jauh dari risikonya,” tuturnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Memilih Status PSBB, Sejumlah Negara Memutuskan Lockdown

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi memutuskan PSBB. Hal itu berbeda dengan sejumlah negara yang telah menetapkan status lockdown atau karantina wilayah.