Waspada, Bencana Banjir Jakarta Bisa Picu Stres Hingga Depresi

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lembaga siaga bencana Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa saat membantu masyarakat yang terdampak banjir di Jakarta pada Selasa, 25 Februari 2020.

    Lembaga siaga bencana Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa saat membantu masyarakat yang terdampak banjir di Jakarta pada Selasa, 25 Februari 2020.

    TEMPO.CO, Jakarta - Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Jakarta, Depok, Tangerang, Bekasi menjadi bencana yang cukup mengejutkan pada awal tahun 2020 ini. Selain menghancurkan tempat tinggal dan menghanyutkan harta benda, dampak banjir Jakarta dan wilayah di sekitarnya juga berisiko terhadap timbulnya berbagai macam penyakit, seperti diare, hepatitis A, leptospirosis, hingga kolera.

    Sayangnya, masih banyak yang belum menyadari bahwa kejadian bencana, termasuk banjir Jakarta, dapat memberikan dampak bagi kesehatan mental, seperti stres dan depresi, bagi orang yang mengalaminya.

    Bencana banjir tidak hanya melanda sejumlah pemukiman warga, melainkan juga gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, dan fasilitas publik lainnya. Dari sekian banyak masalah seputar banjir yang disoroti, ada satu hal yang mungkin luput dari perhatian, yakni dampak banjir Jakarta dapat berisiko mengganggu kesehatan mental.

    Dampak bencana alam, termasuk banjir, terhadap kesehatan mental didalami melalui sebuah penelitian yang dilakukan oleh University of York bersama National Centre for Social Research.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa bencana alam akibat perubahan cuaca baik bertaraf sedang atau ekstrem dapat menimbulkan gangguan psikologis yang berdampak pada kesehatan mental orang yang mengalaminya. Salah satu penyebabnya adalah kenyamanan yang selama ini dirasakan terganggu akibat datangnya bencana yang terjadi. Hal tersebut termasuk kenyamanan dalam pemenuhan kebutuhan pokok, seperti makanan, minuman, air bersih, daya listrik, rumah, pakaian, dan lainnya.

    Kondisi inilah yang pada akhirnya menimbulkan rasa panik pada sebagian orang yang terdampak bencana. Akibatnya, orang-orang yang menjadi korban banjir lebih berpotensi mengalami masalah kesehatan mental, seperti stres, depresi, hingga gangguan kecemasan.

    Para peneliti mengemukakan bahwa orang-orang yang mengalami kerusakan rumah akibat badai dan banjir sekitar 50 persen lebih mungkin mengalami kesehatan mental yang lebih buruk. Hal tersebut termasuk apabila korban banjir mengalami kerusakan tempat tinggal yang tergolong kecil dan tidak memaksa mereka untuk meninggalkan rumahnya.

    Sedangkan, menurut hasil studi lainnya, diungkapkan bahwa dampak banjir Jakarta dapat memengaruhi setiap orang dari segala rentang usia, baik anak-anak hingga orang dewasa. Bencana tersebut dapat menimbulkan rasa duka cita, masalah ekonomi bagi keluarga, masalah perilaku pada anak-anak, peningkatan kekerasan dalam rumah tangga, serta memperburuk kondisi orang dengan kesehatan mental.

    SEHATQ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).