Dokter Ungkap Cara Mengecek Risiko Terkena Penyakit Usus Buntu

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi usus buntu. punchng.com

    Ilustrasi usus buntu. punchng.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Usus buntu atau apendisitis merupakan masalah yang sering menyerang anak-anak hingga dewasa. Sayangnya, masih minim pengetahuan masyarakat tentang tanda-tanda dari usus buntu itu sendiri.

    Tak sedikit yang mengatakan salah satu gejala utamanya adalah nyeri di bagian perut bagian bawah. Memang, hal tersebut benar adanya. Namun, dokter spesialis anak konsultan gastroenterologi hepatologi Frieda Handayani Kawanto mengatakan itu hanya satu dari sekian banyak tanda yang menegaskan diagnosa penyakit usus buntu.

    Frieda menjelaskan usus buntu hanya didapat apabila seseorang mendapat skor 8-10 dari tabel Modified Alvarado Score. Nyeri di bagian perut bagian bawah saja hanya bernilai dua.

    “Kalau masih dua, sangat mungkin bukan apendisitis akut,” katanya dalam acara Media Briefing di Jakarta pada Kamis, 27 Februari 2020.

    Untuk mempertegas diagnosa, Frieda mengatakan tanda lain berupa perpindahan nyeri dari ulu hati ke perut kanan bawah. Apabila seseorang mengalami hal ini, maka poin satu. Adapun poin masing-masing satu lain yang diberikan jika seseorang mengalami mual-muntah dan anoreksia.

    Nyeri lepas dan demam di atas 37,5 derajat celsius juga mendapat poin masing-masing satu. Dengan pemeriksaan laboratorium, Frieda menegaskan hasil seseorang mengalami leukositosis atau memiliki jumlah sel darah putih terlalu banyak mendapat poin dua. Terakhir, satu poin diberikan lagi untuk ditemukannya jenis leukosit berpindah ke kanan.

    “Masing-masing sudah ada poinnya. Kita bisa mengukur sendiri. Kalau angkanya 1-4, bukan apendisitis. Kalau 5-7, mungkin apendisitis dan 8-10 itu pasti apendisitis,” ungkapnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.