Tips Mencermati Hoaks Kesehatan Menurut Pakar

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi hoax atau hoaks. shutterstock.com

    Ilustrasi hoax atau hoaks. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Akhir-akhir ini, masyarakat banyak terhanyut dengan berita bohong alias hoaks, termasuk soal kesehatan seputar virus corona atau COVID-19. Contohnya, bawang putih bisa menyembuhkan dan pemakaian masker terbalik bisa melindungi diri dari virus.

    Tentu hal ini sangat merugikan apabila Anda mempercayainya lantaran seluruh informasi tidaklah benar. Untuk itu, Ketua Masyarakat Hukum Kesehatan Indonesia, dr. Mahesa Paranadipa, pun membagikan tips agar masyarakat lebih cermat dalam menyerap dan membagi suatu informasi baru, tak termakan hoaks.

    Pertama, ia menyarankan agar setiap orang berhati-hati dengan judul yang provokatif. Misalnya, beberapa waktu lalu, kita dikejutkan dengan penemuan batang pohon yang bisa menyembuhkan kanker.

    “Padahal ini baru penelitian awal sehingga belum dianggap benar karena tidak terbukti klinis,” katanya dalam media briefing di Jakarta pada Sabtu, 29 Februari 2020.

    Tips lain, Mahesa mengimbau agar masyarakat mencermati situs yang memberi informasi. Umumnya, situs yang jelas adalah milik pemerintah dan koran online dari perusahaan ternama.

    “Tapi, kalau namanya sudah tidak jelas, ditambah dia mungkin pakai nama website yang kredibel tapi dot net, bukan dot id atau dot com, juga harus diwaspadai,” ungkapnya.

    Terakhir, memeriksa fakta dan keaslian foto sebelum membenarkan suatu informasi juga tak kalah penting. Menurut Mahesa, kini kita bisa melacak gambar lewat sumber pencarian terpercaya.

    “Kalau memang sesuai, artinya memang betul. Tapi kalau foto itu diambil dari sumber lain yang tidak ada kaitannya dengan informasi yang didapat, ya artinya berita bohong,” tegasnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).