Krisis Percaya Diri, Dampak Negatif Body Shaming

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi body shaming. shutterstock.com

    Ilustrasi body shaming. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Body Shaming adalah komentar negatif terhadap fisik atau tubuh seseorang dan dinilai potensial menimbulkan dampak negatif berupa krisis percaya diri yang merugikan orang tersebut.

    Body shaming tidak pernah ada habisnya. Banyak kasus yang terjadi mulai dari anak kecil sampai orang dewasa yang tak Iuput dari pembullyan, baik di lingkungan terdekat maupun media sosial. Efeknya, yang terjadi adalah munculnya krisis percaya diri,” kata pendiri Komunitas Xtra-L Ririe Bogar.

    Menurut Ririe, yang juga seorang influencer body positivity itu, body shaming, yaitu perundungan terhadap kondisi fisik seseorang, juga akan menimbulkan kebencian yang berlebih terhadap diri sendiri karena dianggap tidak bisa manenuhi standar masyarakat. Perempuan sangat rentan menjadi korban perundungan secara fisik.

    Untuk itu, ia mengajak perempuan untuk lebih mencintai dirinya sendiri. Terlebih, belakangan banyak bermunculan gerakan self-love yang dilakukan oleh figur publik, yang ditujukan untuk memotivasi orang-orang agar lebih percaya diri dan menerima diri apa adanya.

    “Berawal dari pengalaman pribadi saya dan teman-teman yang sering mendapatkan komentar negatif tentang fisik, akhirnya tergerak untuk membuat hashtag #KFGA atau dari Komentar Fisik Gak Asik di Instagram pribadi saya (@ririebogar) dan @komentarfisikgakasi.id,” katanya.

    Tak disangka, ternyata gerakan tersebut mendapatkan lebih dari 11.000 respons dari pengguna sosial media dan internet atau warganet. Pada 8 Maret 2020, bersamaan dengan Hari Perempuan Internasional, Ririe pun meluncurkan buku keduanya yang berjudul sama dengan gerakan yang ia inisiasi yakni Komentar Fisik Gak Asik.

    “Buku ini merupakan rangkaian cerita dan kata-kata saya yang mengajak para perempuan, khususnya untuk menerima, mensyukuri, dan lebih mencintai diri sendiri, serta memotivasi para teman #KFGA (sebutan untuk orang-orang yang sering mendapatkan komentar fisik negatif) untuk melawan para pembully dan mengajak mereka untuk lebih berkomentar yang cerdas,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.