Peneliti Ungkap Fakta soal Telur, Kolesterol dan Sakit Jantung

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi telur. Sumber: iStock/foxnews.com

    Ilustrasi telur. Sumber: iStock/foxnews.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebuah penelitian di BMJ Journal menyatakan konsumsi telur tidak berkaitan dengan risiko penyakit kardiovaskular atau sakit jantung. Dalam studi itu, para peneliti menggunakan data dari tiga studi besar di Amerika Serikat yang berlangsung selama 32 tahun, mulai dari 1980.

    Mereka mengatakan orang yang makan telur lebih banyak memiliki indeks massa tubuh yang lebih tinggi, menggunakan lebih sedikit statin, dan makan lebih banyak daging merah. Statin adalah obat yang biasa diresepkan dokter untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah.

    Hal ini yang dinilai para peneliti menjadi faktor risiko terkena sakit jantung, bukan hanya karena konsumsi telur harian. Andrew Odegaard, asisten profesor bidang epidemiologi di Universitas California Irvine mengatakan hasil penelitian terbaru itu meyakinkan. Akan tetapi, dia tetap mengatakan penelitian ini belum cukup untuk menghasilkan panduan formal tentang konsumsi telur.

    “Jika konsumsi telur sering dilakukan dalam konteks pola diet atau konsumsi untuk kebutuhan nutrisi penting, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” katanya, seperti dikutip Medical News Today.

    Penelitian lain terkait hal ini diterbitkan pada akhir Januari lalu oleh Population Health Research Institue (PHRI) dari Universitas McMaster dan Hamilton Health Sciences. Studi ini menggunakan data dari 177.000 orang yang terlibat dalam studi jangka panjang di 50 negara.

    Para peneliti melakukan studi ini serupa tentang kaitan antara telur dan kesehatan jantung. Hasilnya, penelitian melaporkan bahwa peneliti tidak memiliki hubungan signifikan antara makan telur dengan pengumpulan kolesterol dalam darah, kematian dini, dan penyakit kardiovaskular.

    Hal ini membuat para peneliti menyimpulkan bahwa makan satu telur per hari tidak akan meningkatkan risiko penyakit jantung atau kematian. Mereka juga menyimpulkan tidak ada hubungan antara jumlah telur yang dimakan dengan kolesterol.

    Dalam dunia kesehatan, penelitian tentang hubungan telur dan penyakit jantung dan yang lainnya merupakan pembahasan yang terus dilakukan. Penelitian yang pernah diterbitkan di The American Journal of Clinical Nutrition pada 2001 oleh tim peneliti dari Univesitas Wageningen telah menganalisa 17 studi dengan melibatkan 556 subjek untuk penelitian efek konsumsi telur terhadap risiko penyakit jantung koroner.

    Dengan asumsi bahwa sel telur tunggal mengandung 200 miligram kolesterol, para peneliti menemukan bahwa konsumsi satu telur setiap hari dapat meningkatkan risiko seseorang terkena serangan jantung sekitar 2 persen.

    Namun demikian, peneliti juga mencatat ada banyak kandungan positif dalam telur, seperti vitamin E, folat, vitamin B, dan yang lain, yang berpotensi mencegah berbagai penyakit. Dengan demikian, mereka merekomendasikan untuk membatasi konsumsi telur dalam rangka pencegahan penyakit koroner.

    Ini hanyalah satu contoh betapa membingungkannya orang-orang yang mengonsumsi telur terkait risiko peningkatan penyakit. Akan tetapi, bagi Sanjiv Patel, seorang ahli jantung intervensi di Memorial Care Heart and Vascular Institue, penelitian terbaru membuktikan bahwa telur adalah berita baik bagi pecinta sarapan. Akan tetapi, dia juga merekomendasikan agar mengonsumsi dalam tingkatan yang pas.

    “Anda bisa tenang dengan makan 1-2 buir telur setiap pagi hari. Tetapi, sekali lagi, Anda tidak harus mengonsumsinya dalam jumlah yang banyak,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemenag Berikan Pedoman Berkegiatan di Rumah Ibadah saat Pandemi

    Kementerian Agama mewajibkan jemaah dan pengurus untuk melaksanakan sejumlah pedoman ketika berkegiatan di rumah ibadah saat pandemi covid-19.