Bingung Hasil Tes Cepat Negatif tapi Positif COVID-19, Sebabnya..

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi virus corona atau Covid-19. REUTERS

    Ilustrasi virus corona atau Covid-19. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Virus corona sudah sering disebut sebagai penyebab infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) sampai pneumonia sejak 20 tahun lalu, antara lain human pathogenic Cov (HCoV), SARS-CoV, MERS-CoV. Wabah virus corona 2019 memunculkan beragam alat tes atau detektor seseorang positif COVID-19 atau tidak.

    Pada pemeriksaan awal, bisa saja hasil negatif, kemudian pemeriksaan berikutnya positif. Mengapa demikian?

    Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia (PDS PatKlin), Profesor Dr. dr. Aryati MS SpPK(K), mengatakan rapid test IgM/IgG SARS-CoV-2 untuk deteksi COVID-19 dengan pengambilan darah sampel seseorang memiliki keterbatasan. Adapun, yang diperiksa dalam tes cepat adalah antibodi. Dalam pemeriksaan itu bisa muncul false positive dan false negative.

    Hasil pemeriksaan false positive tidak berarti seseorang benar-benar terinfeksi SARS-CoV-2. Sementara, false negative tidak berarti seseorang tak terinfeksi.

    “Maka, false positive dan false negative patut dipertimbangkan untuk deteksi antibodi karena validitas yang belum diketahui (sensitivitas dan spesifitas diagnostik yang bervariasi) sehingga menyulitkan interpretasi,” katanya.

    Berbagai hal yang dapat menyebabkan false positive adalah:
    1. Kemungkinan cross reactive antibody dengan berbagai virus lain (virus corona, virus dengue).

    2. Infeksi lampau dengan virus corona.

    Adapun berbagai hal yang dapat menyebabkan hasil false negative adalah:
    1. Belum terbentuk antibodi saat pengambilan sampal (masa inkubasi).

    2. Pasien mengalami gangguan antibodi (immunocompromised).

    Berdasarkan hal tersebut, apabila menemukan ICT (tes cepat) positif, maka harus dikonfirmasi dengan PCR. Artinya, bila seseorang positif pada pemeriksaan rapid test, maka hasil itu diuji lagi dengan pemeriksaan PCR yang berbasis materi genetika berupa DNA. Apabila ditemukan hasil negatif, maka harus dilakukan pengambilan sampel ulang 7-10 hari kemudian.

    “Namun, pemeriksaan antibodi anti SARS-CoV-2 masih dapat dipertimbangkan untuk menunjukkan paparan infeksi, sehingga dapat digunakan untuk surveilans atau studi epidemiologi dan penelitian lebih lanjut,” tambahnya.

    Seperti diketahui, WHO menetapkan Covid-19 sebagai pandemi pada 11 Maret 2020, dan deteksi virus SARS-CoV-2 sebagai penyebab Covid-19 yang direkomendasikan adalah real-time Polymerase Chain Reaction (rt-PCR) dilanjutkan sequencing untuk mengonfirmasi diagnosis infeksi Covid-19.

    Ukuran tingkat kepercayaan (confidence level) untuk deteksi berbagai patogen adalah: yang tertinggi kultur, molekular (DNA atau RNA), antigen, dan yang terendah antibodi (IgMG/IgG/IgA antipatogen tersebut).

    Untuk SARS-Cov-2 penyebab COVID-19, confidence level tertinggi saat ini adalah pemeriksaan molekuler, yaitu real-time PCR (RT-PCR) yang dilanjutkan dengan sequencing yang telah dilakukan di Balitbangkes Jakarta, karena kultur virus SARS-CoV-2 saat ini belum dapat dilakukan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Klaim Hadi Pranoto Soal Obat Covid-19 Dipatahkan Sejumlah Pakar

    Hadi Pranoto jadi perbincangan warganet setelah ia mengkalaim menemukan obat Covid-19 ketika diwawancarai musisi Anji. Sejumlah pakar meragukan Hadi.