Waspadai Gejala Corona, Kehilangan Indera Perasa dan Pencium

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pria periksa lidah ke dokter. shutterstock.com

    Ilustrasi pria periksa lidah ke dokter. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Waspadai berbagai gejala infeksi virus corona atau COVID-19 yang berbeda-beda pada setiap orang. Mayoritas gejalanya adalah demam, batuk, pilek, dan gangguan pernapasan.

    Namun, sebuah studi dari ENT UK, asosiasi dokter telinga, hidung, dan tenggorokan di Inggris menyebut ada gejala baru yang menunjukkan seseorang terinfeksi virus ini. Gejala tersebut yakni kehilangan indera penciuman secara total atau anosmia.

    Dari penelitian ENT UK, sekitar 40 persen kasus anosmia terjadi setelah infeksi virus berlangsung. Namun, banyak data dari pasien COVID-19 di beberapa negara menunjukkan jumlah yang signifikan anosmia menjadi salah satu gejalanya.

    Mereka yang mengalami gejala ini, tidak merasakan gejala COVID-19 pada umumnya, yakni demam, batuk, dan pilek. Jika orang yang menderita anosmia tetapi tidak memiliki gejala lain, disarankan untuk melakukan isolasi diri selama tujuh hari di rumah.

    "Kita mungkin dapat mengurangi jumlah individu yang asimtomatik, yang terus bertindak sebagai vektor," menurut pernyataan ENT UK dikutip dari Live Science.

    Adapun, kasus anosmia telah dilaporkan di Iran, Amerika Serikat, Prancis, dan Italia Utara. Presiden profesor bidang THT Inggris, Clare Hopkins, mengatakan empat pasien yang diperiksanya selama seminggu terakhir tidak menunjukkan gejala selain kehilangan bau yang tiba-tiba. Semua pasien berusia di bawah 40 tahun.

    "Saya pikir mungkin beberapa pasien ini menjadi pembawa virus yang telah memfasilitasi penyebaran COVID-19 secara cepat," kata Hopkins.

    Bukan hanya kehilangan indera penciuman, Akademi Otolaringologi Amerika - Bedah Kepala dan Leher di Alexandria, Virginia, pada 22 Maret 2020 menyebut kehilangan indera perasa atau dysgeusia juga menjadi salah satu gejala COVID-19. Oleh karena itu, AAO-HNS merekomendasikan kehilangan rasa dan bau ditambahkan ke daftar tanda-tanda gejala COVID-19.

    Sementara itu, Dr. Hendri Streeck, Kepala Rumah Sakit Universitas Bonn di Jerman baru-baru ini mewawancarai lebih dari 100 pasien yang terinfeksi COVID-19. Mereka menemukan bahwa hampir 70 persen kehilangan bau dan rasa selama beberapa hari.

    "Sejauh ini, seorang ibu tidak bisa mencium bau popok anaknya. Yang lain tidak bisa lagi mencium bau sampo dan makanan mulai terasa hambar," sebutnya.

    Meskipun para dokter tidak dapat mengatakan dengan pasti kapan hilangnya bau dan rasa muncul pertama kali pada pasien ini, mereka menduga bahwa gejala tersebut bermanifestasi sebagai tahap infeksi selanjutnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).