Ibunda Jokowi Kanker Tenggorokan, Begini Tahap Diagnosa Penyakit

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ibunda Jokowi, Sudjiatmi Notomihardjo. ANTARA/ Dhoni Setiawan

    Ibunda Jokowi, Sudjiatmi Notomihardjo. ANTARA/ Dhoni Setiawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebelum dinyatakan meninggal dunia pada Rabu, 25 Maret 2020, ibunda Jokowi, Sujiatmi Notomiharjo, diketahui mengidap kanker tenggorokan. Ini adalah masalah kesehatan yang terjadi pada jaringan di sekitar belakang hidung hingga ke pita suara.

    Melansir dari situs Mayo Clinic, kanker tenggorokan sangat sulit didiagnosa lantaran beberapa gejala klinisnya menyerupai masalah kesehatan biasa, termasuk batuk, perubahan suara menjadi lebih serak, sulit menelan, benjolan pada leher, hingga penurunan berat badan.

    Namun, dengan kondisi kanker tenggorokan yang tidak segera ditemukan dan diobati, risiko kematian pun akan lebih tinggi. Untuk itu, menjalankan berbagai macam tes kesehatan agar mengetahui kesehatan tenggorokan pun penting dilakukan. Ada beberapa tes yang bisa dikerjakan dalam mendiagnosis penyakit ini.

    Melansir dari situs Health Line, hal pertama yang bisa dikerjakan adalah laringoskopi. Tes ini dikerjakan oleh dokter guna melihat kondisi tenggorokan dengan lebih dekat. Apabila dilihat ada kelainan, maka dokter akan mengambil sampel jaringan atau yang sering disebut dengan biopsi untuk diuji.

    Jika hasil biopsi menunjukkan adanya sel kanker pada tenggorokan, maka dokter akan melihat stadium dari tumor. Hal tersebut dikerjakan lewat berbagai jenis foto termasuk magnetic resonance imaging (MRI), positron emission tomography (PET scan), dan computed tomography (CT scan).

    Buat yang dicurigai sudah memiliki stadium lanjut, maka X-ray dada dan barium swallow akan dilakukan. Selanjutnya, pengobatan pun mulai dijalankan guna menghentikan dan membunuh pertumbuhan sel kanker pada tenggorokan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Memilih Status PSBB, Sejumlah Negara Memutuskan Lockdown

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi memutuskan PSBB. Hal itu berbeda dengan sejumlah negara yang telah menetapkan status lockdown atau karantina wilayah.