Hasil Tes Corona Negatif, Mengapa tetap Perlu Isolasi Diri?

Reporter

Editor

Mitra Tarigan

Ilustrasi virus corona atau Covid-19. REUTERS

TEMPO.CO, Jakarta - Apakah setelah melakukan tes corona Anda dinyatakan negatif? Apakah dokter tetap menyarankan Anda untuk mengisolasi diri sendiri? Tidak usah marah, ternyata belum tentu orang yang hasil tes negatif corona benar-benar tidak terinfeksi virus itu.

Tidak ada tes yang 100 persen akurat dan beberapa hasilnya mungkin keliru memperlihatkan seseorang positif tapi ternyata tidak. Tes virus corona biasanya menggunakan swab dari belakang hidung atau tenggorokan seseorang. Swab ini lalu dibawa ke laboratorium untuk diperiksa.

Setiap tes medis memiliki dua kualitas penting yakni sensitivitas dan spesifisitas. Tes ini terbukti “sensitif” dalam kondisi laboratorium - dalam hal ini, ukuran teknis dari jumlah virus terkecil yang dapat mereka deteksi.

Tetapi tes juga harus "spesifik" - misalnya, memastikan tidak ada kesalahan menilai patogen lain, seperti virus corona flu biasa atau SARS-CoV-2. "Jika positif, Anda benar-benar dapat membuat keputusan (klinis). Jika itu negatif, Anda mungkin baru mengalami awal infeksi dan jumlah virus mungkin sangat rendah sehingga Anda tidak mendapatkannya," kata Anthony S. Fauci, direktur Institut Nasional untuk Penyakit Alergi dan Penyakit Menular di Amerika Serikat.

Orang yang hasil tesnya negatif mungkin bingung dan sulit mempercayai hasilnya.

Ada beberapa alasan hasil tes bisa menjadi negatif ketika seseorang terinfeksi SARS-CoV-2, salah satunya masih dalam tahap sangat awal atau saat jumlah virus di saluran napas masih sedikit.

Selain itu, bisa jadi ada masalah dalam pengumpulan swab. Berbagai jenis pengumpulan swab seperti bagian belakang hidung, tenggorokan, hidung bagian luar - mungkin juga memiliki tingkat akurasi yang berbeda. Hal lainnya, mungkin ada masalah saat distribusi swab ke laboratorium.

Sementara itu, jenis tes lain yakni tes genetik yang digunakan di Cina diklaim tidak terlalu sensitif. Laporan menunjukkan, orang harus berkali-kali diambil swab-nya untuk keperluan tes.

Ada juga dokter yang menggunakan CT scan pada paru-paru orang untuk mendiagnosis penyakit karena ini dinilai lebih sensitif. Tetapi di Amerika Serikat hal berbeda terjadi. Jeffrey P. Kanne dari University of Wisconsin School of Medicine and Public Health tidak merekomendasikan CT scan untuk mendiagnosis pasien tanpa tes genetik.

Demetre Daskalakis, wakil komisaris untuk divisi pengendalian penyakit dari Departemen Kesehatan di New York, mengatakan baru-baru ini menyarankan seorang pasien dengan gejala ringan namun negatif corona bertindak seolah-olah positif. "Kemungkinan jika Anda menderita demam atau batuk dalam pandemi, itu jelas COVID-19. Bahkan jika tesnya negatif," kata Daskalakis seperti dilansir The Washington Post.

“Tes ini adalah alat skrining. Kita harus memikirkan probabilitasnya, yang berarti tes positif adalah probabilitas virus yang sangat tinggi," kata Michael Z. Lin, asisten profesor neurobiologi di Stanford University.

"Tes negatif lebih sulit untuk ditafsirkan," kata dia.

Jika Anda bergejala tetapi belum pernah berhubungan dekat dengan orang yang terinfeksi, hasil tes negatif mungkin benar-benar negatif. Tapi, seiring virus menyebar luas di masyarakat, akan menjadi lebih sulit mengetahui apakah seseorang terpapar atau tidak.

Di lain sisi, jika seseorang telah melakukan kontak dengan orang terinfeksi misalnya seorang tenaga medis dengan paparan berulang, tes negatif hanya menunjukkan swab yang diambil pada saat itu adalah negatif, bukan berarti dia tidak terinfeksi.






Australia Hapus Wajib Isolasi Mandiri Covid-19, Ahli Kesehatan Khawatir

6 hari lalu

Australia Hapus Wajib Isolasi Mandiri Covid-19, Ahli Kesehatan Khawatir

Australia akan menghapus wajib isolasi mandiri di rumah lima hari untuk orang yang terinfeksi Covid-19, yang membuat ahli kesehatan khawatir


Kanada Hapus Aturan Covid-19 untuk Pelancong

9 hari lalu

Kanada Hapus Aturan Covid-19 untuk Pelancong

Pemerintah Kanada mengumumkan akan segera mencabut semua pembatasan perjalanan Covid-19.


Kanselir Jerman Olaf Scholz Positif Covid-19

10 hari lalu

Kanselir Jerman Olaf Scholz Positif Covid-19

Kanselir Jerman Olaf Scholz terinfeksi virus corona sepulang lawatannya ke Timur Tengah.


Jepang Bakal Larang Turis Tanpa Masker Masuk Hotel

15 hari lalu

Jepang Bakal Larang Turis Tanpa Masker Masuk Hotel

Jepang melonggarkan perbatasan, namun turis yang masuk hotel tanpa masker akan dilarang.


Biden Klaim Pandemi Covid-19 Sudah Berakhir, di AS Kasus Corona Masih Tinggi

16 hari lalu

Biden Klaim Pandemi Covid-19 Sudah Berakhir, di AS Kasus Corona Masih Tinggi

Kasus Corona di AS masih tinggi saat Joe Biden menyatakan pandemi Covid-19 sudah berakhir.


Selandia Baru Tak Lagi Wajibkan Masker dan Imunisasi Covid-19

23 hari lalu

Selandia Baru Tak Lagi Wajibkan Masker dan Imunisasi Covid-19

Selandia Baru menghapuskan aturan ketat yang mewajibkan suntik vaksin virus corona dan menggunakan masker.


Kim Jong Un Sempat Bantah Covid-19, Korea Utara Mulai Vaksinasi Corona November

26 hari lalu

Kim Jong Un Sempat Bantah Covid-19, Korea Utara Mulai Vaksinasi Corona November

Kim Jong Un akan memulai vaksinasi Covid-19 di Korea Utara. Dia khawatir jumlah kasus Corona naik karena musim dingin.


Kasus Harian Covid-19 di Rusia Naik

33 hari lalu

Kasus Harian Covid-19 di Rusia Naik

Rusia mencatat pada Sabtu, 3 Agustus 2022, ada lebih dari 50 ribu kasus baru Covid-19 atau tertinggi dalam enam bulan


Covid-19, Aktivitas Warga Shenzhen Dibatasi

34 hari lalu

Covid-19, Aktivitas Warga Shenzhen Dibatasi

Sejumlah area di Shenzhen memutuskan memperpanjang pembatasan aktivitas warga demi meredam wabah Covid-19.


Kota Chengdu di Cina Lockdown

34 hari lalu

Kota Chengdu di Cina Lockdown

Warga Chengdu harus menjalani lockodown. Kasus Covid-19 di sana ada 157 kasus.