Menjelang Ramadan, Ahli Gizi Ingatkan Pentingnya Asupan Air Putih

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi air putih (pixabay.com)

    Ilustrasi air putih (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Ali Khomsan mengatakan asupan air putih dalam tubuh seseorang perlu tetap terpenuhi selama berpuasa sehingga tidak perlu cemas kekurangan cairan apabila virus corona alias COVID-19 masih mewabah hingga Ramadan. "Sebenarnya ketika puasa itu yang berkurang terutama adalah asupan kalori, tapi kalau asupan air harusnya tidak terlalu sulit untuk dipenuhi," kata dia saat dihubungi di Jakarta, Jumat 27 Maret 2020.

    Hal tersebut disampaikan terkait anjuran banyak minum air putih untuk mencegah COVID-19 serta mengingat sekitar satu bulan lagi umat Muslim menjalankan ibadah puasa sehingga tidak dapat minum di siang hari.

    Kebutuhan asupan air dapat terpenuhi saat sahur dan berbuka. Misalnya, saat seseorang bangun tidur menjelang sahur, ia bisa minum satu gelas. Kemudian, setelah makan sahur minum satu gelas air dan sebelum imsak juga minum satu gelas lagi. "Itu sudah dapat tiga gelas. Sisanya nanti setelah kita berbuka puasa tentunya kita lebih leluasa untuk minum dibandingkan pada saat sahur," katanya.

    Dengan pola tersebut seharusnya tidak ada kendala berarti dalam memenuhi asupan cairan saat seseorang menjalankan ibadah puasa. Selain dengan minum air putih, ia juga menyarankan agar masyarakat banyak mengonsumsi sayuran berkuah selama bulan Ramadan sehingga dapat menambah asupan cairan bagi tubuh. "Jadi tidak hanya sekadar makanan yang kering saja, melainkan berkuah," ujarnya.

    Selain itu, masyarakat juga dianjurkan untuk banyak mengonsumsi sayuran dan buah yang kaya vitamin C selama bulan puasa. Sebab, terkadang orang yang berpuasa mengalami tenggorokan kering dan radang. Sehingga, dengan mengonsumsi makanan tersebut bisa mengurangi peradangan di tenggorokan.

    Terkait waktu makan saat berbuka puasa sebaiknya dipercepat yakni benar-benar setelah salat magrib, bukan malah setelah tarawih. Hal itu perlu diperhatikan karena dibutuhkan rentang waktu yang cukup antara makan dan tidur untuk proses pencernaan makanan. "Sehingga kalau kita habis shalat magrib langsung makan berat, maka itu memberi kesempatan bagi tubuh mencerna makanan dengan baik," kata dia.*


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.