Vitamin D Bisa Cegah Covid-19? Begini Kata Ahli

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi tempe. (doctortempeh.com)

    Ilustrasi tempe. (doctortempeh.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Virus corona yang merajalela di dunia tentu membuat masyarakat khawatir. Pasalnya, selain belum ditemukannya obat penangkal, penyakit ini juga menyerang banyak orang dalam waktu singkat.

    Tak heran, masyarakat pun mulai mencari alternatif pengobatan dari makanan-makanan tertentu. Namun, bagaimana dengan vitamin D yang banyak ditemui dalam minyak ikan kod, telur ayam, tahu dan tempe, jamur, dan susu kedelai? Bisakah mencegah dari COVID-19?

    Ahli nutrisi dari Universitas Stony Brook, Jillian Kulaba, pun mencoba menjelaskan. Seperti dilansir dari situs Health Line, ia mengatakan vitamin D berhubungan erat dengan peningkatan imunitas tubuh sebab memiliki sifat anti-inflamasi dan imunoregulasi yang sangat penting untuk mengaktivasi pertahanan sistem kekebalan.

    Sebaliknya, kekurangan kadar vitamin D telah dikaitkan dengan peningkatan kerentanan terhadap infeksi, penyakit, dan gangguan terkait kekebalan tubuh.

    “Misalnya penyakit pernapasan, termasuk tuberkulosis, asma, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta infeksi pernapasan virus dan bakteri,” katanya.

    Hal ini telah dibuktikan dari penelitian yang dilakukan pada akhir 2019 dan melibatkan 11.321 orang dari 14 negara.

    “Ditemukan, pemberian suplemen vitamin D berhasil menurunkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga 12 persen pada mereka yang kekurangan vitamin D dan mereka yang memiliki kadar memadai,” ungkapnya.

    Ada dosis yang disarankan untuk mendapatkan hasil sempurna. Kulaba mengatakan penelitian menyarankan agar seseorang mengonsumsi vitamin D setiap hari dalam dosis kecil alias 30-60 ng/mL.

    “Kurang efektif ketika dikonsumsi terlalu lama (berjarak jauh dan dalam dosis yang besar),” jelasnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.