Hindari Informasi Keliru soal Virus Corona dengan Tips Berikut

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi logo WhatsApp dan Facebook. doxy.in

    Ilustrasi logo WhatsApp dan Facebook. doxy.in

    TEMPO.CO, Jakarta - Di tengah wabah virus corona di seluruh dunia, masyarakat harus lebih berhati-hati dalam membagikan informasi di internet. Informasi yang salah dapat menyebabkan kebingungan, bahkan menimbulkan rasa takut dan panik.

    Untuk itu, setiap orang memiliki tanggung jawab membantu mengurangi penyebaran informasi yang salah dengan memastikan hanya memberikan informasi yang benar atau telah terverifikasi. Berikut lima tips dari Facebook agar dapat terhindar dari informasi yang salah tentang virus corona di internet.

    #Bersikaplah skeptis terhadap judul
    Hoaks atau berita palsu seringkali memiliki judul bombastis dengan huruf kapital dan tanda seru. Jika judul terlihat mengejutkan dan tidak dapat dipercaya, maka kemungkinan itu berita palsu alias hoax. Perhatikan alamat situs atau URL berita. Alamat situs atau URL palsu seringkali dibuat mirip aslinya dengan memberikan sedikit perubahan, misalnya mengganti huruf kapital I dengan huruf kecil i atau mengganti nol 0 dengan o. Jika kurang yakin, Anda dapat membuka jendela browser yang baru dan masuk ke dalam situs yang sebenarnya untuk membandingkan URL dengan sumber terpercaya.

    #Perhatikan baik-baik URL dan isi halaman berita
    Pastikan berita tersebut ditulis oleh sumber yang terpercaya dan memiliki reputasi keakuratan yang baik. Jika berita tersebut berasal dari organisasi yang tidak dikenal, baca bagian "Tentang" di situs mereka untuk mempelajari selengkapnya. Misinformasi atau berita palsu mungkin juga berisi linimasa yang tidak masuk akal, atau tanggal peristiwa yang sudah diubah.

    Banyak juga situs berita palsu yang salah eja atau punya tata letak yang canggung. Bacalah dengan seksama untuk melihat tanda-tanda ini. Misinformasi atau berita palsu bisa juga berisi gambar atau video yang dimanipulasi, atau terkadang foto tersebut memang asli tetapi konteksnya berbeda. Bersikaplah skeptis terhadap penggunaan foto atau video yang seperti ini.

    #Periksa sumber informasi
    Periksalah sumber informasi penulis untuk menginformasi keakuratan. Kurangnya bukti atau ketergantungan terhadap ahli-ahli yang tidak disebutkan namanya dapat mengindikasikan kabar berita palsu.

    #Lihat berita atau informasi lain
    Jika tidak ada sumber berita lain yang melaporkan informasi yang sama, hal tersebut dapat mengindikasikan informasi tersebut palsu. Jika informasi tersebut dilaporkan oleh beberapa sumber yang dipercaya, maka kemungkinan informasi tersebut benar.

    #Dapatkan informasi dari otoritas resmi
    Dapatkan informasi resmi terbaru mengenai COVID-19 dari otoritas kesehatan global dan lokal dapat sepenuhnya yakin bahwa Anda sedang membaca dan membagikan informasi yang benar dan akurat. Silakan merujuk ke sumber-sumber sebagai berikut.
    Situs resmi Pemerintah Indonesia untuk COVID-19 (https://www.covid19.go.id/).
    Chatbot WhatsApp COVID-19 dari Kominfo di +62-811-3339-9000.
    Situs World Health Organization (WHO) untuk COVID-19:
    https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019

    Pada akhirnya, Anda harus berpikir kritis tentang apa yang dibaca di ranah daring dan hanya membagikan berita dari sumber terpercaya. Untuk memulainya, Anda dapat menggunakan panduan di atas. Jika menemukan unggahan berisi berita palsu di Facebook, Facebook meminta untuk segera melaporkannya dengan menekan tombol di bagian kanan atas dari unggahan tersebut, pilih Cari Dukungan atau Laporkan Postingan, kemudian laporkan sebagai berita palsu. Anda juga dapat mengunjungi Pusat Bantuan Facebook untuk info lebih lanjut tentang cara melaporkan sebuah unggahan, dan mempelajari cara mengenali berita palsu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.