Kaya Manfaat, Susu Ternyata Punya Dampak Buruk bagi Kesehatan

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi susu (pixabay.com)

    Ilustrasi susu (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Kita tentu sudah tidak asing lagi dengan manfaat susu. Selain menguatkan tulang, susu juga penting untuk menunjang pertumbuhan dan menyempurnakan asupan gizi.

    Sayangnya, di balik manfaat baik susu, ada pula berbagai dampak negatif bagi kesehatan yang sering diacuhkan masyarakat. Dalam acara Pola Hidup dan Gizi yang diselenggarakan oleh Kios ojo Keos, doktor gizi komunitas Tan Shot Yen menjelaskan efek buruk mengonsumsi susu.

    Pertama, Tan menjelaskan bahwa susu yang didapat dari sapi asli ataupun lewat proses bisa menyebabkan manusia resisten antibiotik. Hal ini bermula dari pemilik sapi yang membombardir produksi susu dari sapi.

    “Kita tahu kalau sapi itu hanya memproduksi susu untuk anaknya. Tapi sekarang dipaksa untuk membagikan ke manusia juga,” katanya di Jakarta pada Senin, 30 Maret 2020.

    Guna meningkatkan produksi sapi, para pemilik akan menyuntikkan hormon. Sayangnya, itu menyebabkan pembengkakan mastitis.

    “Untuk menghindarinya, akan disuntik antibiotik. Jadi secara tidak sadar, semua susu yang berasal dari sapi mengandung antibiotik, sehingga bukan obat antibiotik saja yang membuat kita resisten antibiotik, tapi juga karena minum susu,” jelasnya.

    Selain resisten antibiotik alias ketidakmampuan atau kebalnya tubuh dalam melawan infeksi bakteri, susu juga bisa menyebabkan obesitas dan sindrom metabolik. Khususnya bagi masyarakat Indonesia, Tan menjelaskan kebiasaan minum susu dengan rasa telah menjadi kebiasaan.

    “Apalagi paling suka susu cokelat dan vanilla,” ungkapnya.

    Menurut Tan, susu yang memiliki rasa pasti ditambah gula dalam proses pembuatan. Memang, pada akhirnya ini terlihat bisa memperbaiki masalah gizi, khususnya pada balita yang mengalami stunting.

    “Tapi, lambat laun, susu yang terus dikonsumsi juga bisa menyebabkan obesitas dan sindrom metabolik lainnya,” tuturnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.