Kiat Hindari Kecemasan saat Wabah Virus Corona dari Psikolog

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi cemas. Shutterstock.com

    Ilustrasi cemas. Shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Rasa cemas dan panik terus muncul di tengah wabah virus corona. Psikolog Dr. Novrans Eka Saputra mengatakan berpikir sehat dan tidak cemas bisa mendukung melawan wabah virus corona, di samping berperilaku hidup bersih dan sehat serta disiplin.

    "Percayalah, kita bisa melawan corona bila berpikir sehat dan tidak cemas," kata Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) cabang Jambi itu.

    Himpsi Jambi membuka layanan konseling online bagi warga dalam menghadapi dampak psikologis dari penyebaran COVID-19 di Tanah Air. Menurutnya, animo masyarakat untuk mengakses konseling online yang ditangani atau direspons oleh psikolog dari sejumlah daerah di Provinsi Jambi itu cukup tinggi. Dari beberapa kegiatan itu, maka bisa disimpulkan bahwa kecemasan masyarakat sangat kentara saat ini.

    "Bila melihat dalam beberapa hari terakhir, gejala kecemasan sampai psikomomatis telah dirasakah masyarakat," kata Novrans.

    Setiap pemberitaan mengenai COVID-19 menstimulasi kecemasan dan cenderung berdampak lebih buruk. Menurut dia peran media dan perilaku bijak masyarakat dalam menyampaikan informasi itu sangat diperlukan. Di sisi lain, perlu ada pendampingan satu sama lain di lingkungan masing-masing.

    "Saran saya sepertinya media juga harus ikut menjaga pemberitaan di masyarakat, juga peran masyarakat untuk lebih bijak dalam menyampaikan informasi atau respons di media sosial," kata Novrans.

    Ia menyebutkan transparansi tentang korban boleh namun tidak diekpos secara berlebihan. Lebih lanjut, Kepala Prodi Psikologi Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Jambi itu menyebutkan dalam menghadapi kondisi yang tidak biasa, seperti pandemi saat ini, masyarakat harus bisa memanajemen emosi, khususnya rasa cemas dan kekhawatiran berlebih kepada COVID-19.

    Hal itu perlu difasilitasi, terlebih masalah yang dihadapi masyarakat lebih banyak dari situasi biasa. Namun, saat ini kondisinya berbeda yang kenyataanya butuh penguatan khusus.

    Novrans menyebutkan, dampak dari kecemasan setelah mendapat informasi atau kabar terbaru terkait COVID-19 kadang mempengaruhi ke kondisi tubuh. Ia mencontohkan, salah satu bentuk reaksi kecemasan yang lazim adalah tiba-tiba merasa ingin batuk, meriang, kekhawatiran berlebih bahwa dirinya terpapar COVID-19.

    "Kehadiran konseling online yang digelar secara cuma-cuma dari Himpsi Jambi salah satunya membantu mengatasi hal itu, mereka butuh layanan psikologi. Dengan konseling online, maka tidak perlu pergi ke RS atau fasilitas kesehatan, cukup dengan gawai sudah bisa mendapatkan pendampingan dari psikolog," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.