Sebab Angka Kematian COVID-19 di Indonesia di Atas Rata-rata

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana pemakaman jenazah pasien virus Corona di TPU Pondok Ranggon, Jakarta, Senin, 30 Maret 2020. Juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19 Achmad Yurianto per Senin (30/3) pukul 12.00 WIB menyatakan jumlah pasien positif COVID-19 di Indonesia telah mencapai 1.414 kasus. ANTARA/Muhammad Adimaja

    Suasana pemakaman jenazah pasien virus Corona di TPU Pondok Ranggon, Jakarta, Senin, 30 Maret 2020. Juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19 Achmad Yurianto per Senin (30/3) pukul 12.00 WIB menyatakan jumlah pasien positif COVID-19 di Indonesia telah mencapai 1.414 kasus. ANTARA/Muhammad Adimaja

    TEMPO.CO, Jakarta - Apabila kita meninjau tentang jumlah kematian akibat virus corona di Indonesia, persentasenya jauh lebih besar dari rata-rata dunia. Sebagai perbandingan, pasien meninggal di Indonesia mencapai 8 persen, sedangkan di dunia hanya 1-2 persen saja.

    Lalu, mengapa angka kematian di Indonesia jauh lebih besar dari rata-rata? Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung dari Kementerian Kesehatan, Wiendra Waworuntu, pun angkat bicara. Pertama, ia menjelaskan bahwa pasien umumnya meninggal akibat penyakit penyerta sebelumnya.

    Penyakit yang dimaksudkan Wiendra itu termasuk degeneratif, seperti diabetes dan hipertensi. Ia menegaskan orang dengan kondisi kronis ini memang bisa memperburuk kondisi tubuh.

    “Dari semua pasien, kebanyakan memiliki riwayat penyakit terdahulu. Jadi, ini juga yang mempengaruhi angka kematian yang tinggi,” jelasnya dalam telekonferensi di Jakarta, pekan lalu.

    Menambahkan pernyataan Wiendra, pengajar senior di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Pandu Riono, juga menegaskan bahwa pengecekan terhadap seluruh masyarakat belum sepenuhnya terlaksana. Itu berarti angka orang yang terinfeksi pun ikut minim.

    “Dari yang sudah ketahuan, kebetulan ada penyakit penyerta jadi mempengaruhi persentase yang tinggi juga,” ujarnya.

    Meski begitu, Indonesia kini telah mempersiapkan diri untuk meminimalkan angka kematian akibat COVID-19. Wiendra mengatakan Kementerian Kesehatan berusaha menginstruksikan pengecekan virus dengan skala masyarakat yang lebih besar.

    “Kami juga sudah membuka semakin banyak rumah sakit rujukan agar pasien corona yang dinyatakan positif bisa mendapatkan perawatan hingga sembuh,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.